Jumat, 15 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
259

TKI Berkisah Pemerasan di Bandara

TEMPO.CO, Jakarta -Seorang Tenaga Kerja Indonesia di Hong Kong, Yuli Riswati, menganggap tak aneh terhadap pemerasan TKI ketika tiba di bandar udara. Yuli bahkan pernah diperas pada tahun 2008 silam. “Saya pernah mengalaminya di bandara Juanda dan bandara Soekarno-Hatta,” kata Yuli melalui pesan teks kepada Tempo, Sabtu, 26 Juli 2014.

Yuli yang bekerja di Hongkong sejak 2007 mengisahkan pengalamannya itu. Ia pulang dari Hongkong, mendarat di bandara Soekarno Hatta, dan seseorang meminta uang untuk membayar berbagai hal yang tak jelas. Ia, sebagaimana para TKI pada umumnya, tak bisa melawan permintaan petugas tersebut.”Saya belum berani (menolak) atau (belum) cukup memahami peraturan,” kata Yuli. “Jadi mau aja diminta bayar Rp 500 ribu.”

Berikutnya, ia pun diperas saat di bandara Juanda. Namun Yuli berani menolak permintaan petugas itu. Biasanya, pemeras meminta uang administrasi bandara, mendata TKI, dan memaksa untuk mencarikan jasa travel. “Saya pun berani menolak, bahkan meminta mereka menunjukkan kartu tanda kerja,” kata wanita berjilbab ini. “Mereka ngamuk hampir mukul saya.”

Komisi Pemberantasan Korupsi Sabtu lalu menahan 14 orang, termasuk seorang polisi dan seorang tentara, saat inspeksi mendadak di Terminal 2F Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Inspeksi ini berkaitan dengan pemerasan yang kerap dialami Tenaga Kerja Indonesia.
Yuli juga menceritakan bagaimana pemeras memanfaatkan Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri. Ia pernah didenda dengan dalih tak memiliki Kartu tersebut. Ia bahkan sampai diancam penerbangannya dibatalkan apabila ngotot tak mau membayar. Tak jarang, TKI yang menolak dicaci dan diancam.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of