Type to search

Dikurangi Jatah Uang Solar, Sopir Gugat Perusahaan ke PHI

Share

Samarinda – Edy Mulyani selaku Sopir pada PT Sega Kanalung Indah yang berkedudukan di Jalan AW.Syahrani Nomor 9, Kecamatan Samarinda Ulu, Kota Samarinda, menggugat perusahaannya ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Samarinda.

Gugatan yang dilayangkan Edy, lantaran perusahaan mengurangi jatah uang solar yang awalnya diberikan sebesar Rp.1,8 juta perbulan menjadi Rp.1,2 juta perbulan. Selain itu, perusahaan juga dituduh melakukan pengurangan pada uang retasi, konsumsi dan portal yang semula sebesar Rp.700 ribu perbulan menjadi Rp.435 ribu perbulan.

Untuk menutupi kekurangan biaya retasi, konsumsi dan portal, Edy mensiasati dengan melakukan pengurangan biaya solar yang juga telah dikurangi, sehingga pada akhirnya Edy tidak sanggup menanggung kekurangan uang solar dan operasional dijalan.

Atas hal tersebut, Edy mengajukan keberatan terhadap perusahaan, namun perusahaan menyuruh dirinya untuk mengundurkan diri, jika tidak lagi kerasan bekerja sama dengan perusahaan. Demikian, dalil gugatan yang diajukan oleh Edy ke PHI Samarinda. Dalam petitumnya, Edy meminta PHI Samarinda untuk memutus hubungan kerjanya dengan perusahaan berdasarkan ketentuan Pasal 169 ayat (1) huruf f Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003.

Dalam hukum ketenagakerjaan, sebagaimana yang dimaksud Pasal 169 ayat (1) huruf f UU Ketenagakerjaan, pekerja dapat mengajukan permohonan pemutusan hubungan kerja ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI), apabila pengusaha melakukan tindakan : menganiaya, menghina secara kasar atau mengancam pekerja, membujuk dan/atau menyuruh pekerja untuk melakukan perbuatan yang bertentangan dengan undang-undang, tidak membayar upah tepat pada waktu yang telah ditentukan selama 3 (tiga) bulan berturut-turut atau lebih, tidak melakukan kewajiban yang telah dijanjikan kepada pekerja, memerintahkan pekerja untuk melaksanakan pekerjaan di luar yang diperjanjikan, atau memberikan pekerjaan yang membahayakan jiwa, keselamatan, kesehatan dan kesusilaan pekerja, sedangkan pekerjaan tersebut tidak dicantumkan pada perjanjian kerja.

Namun terhadap gugatan Edy, PHI Samarinda memberikan Putusan Nomor 29/G/2012/PHI.Smda., tanggal 26 Februari 2013, yang menyatakan hubungan kerja antara Edy dengan perusahaan berakhir karena mengundurkan diri, bukan karena perusahaan memberikan pekerjaan yang membahayakan jiwa, keselamatan, kesehatan dan kesusilaan pekerja, sedangkan pekerjaan tersebut tidak dicantumkan pada perjanjian kerja, sebagaimana dalil gugatan Edy.

Terhadap putusan PHI Samarinda, Edy melalui perantaraan kuasanya berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 11 September 2012 mengajukan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung pada tanggal 14 Maret 2013, sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor: 01/KAS/2013/ PHI.Smda., jo. Nomor: 29/G/2012/PHI.Smda., yang disertai dengan memori kasasi tanggal 14 Maret 2013.

Akan tetapi, Mahkamah Agung tidak sependapat dengan keberatan yang diajukan Edy, yang keberatan dengan pertimbangan PHI Samarinda yang menafsirkan permohonan pemutusan hubungan kerja Edy sebagai surat pengunduran dirinya.

Mahkamah Agung dalam putusannya Nomor 526 K/Pdt.Sus-PHI/2013 tanggal 26 November 2013, menyatakan pertimbangan hukum PHI Samarinda dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, sehingga permohonan kasasi yang diajukan oleh Edy Mulyani harus ditolak. (Hz)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Up