Senin, 23 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
336

Keberatan Cuci Mobil dan Piring, Satpam Di-PHK

Sukoharjo | Apes nasib Wahyu Diantoro yang dipekerjakan sebagai tenaga pengamanan (security) oleh PT Suwastama Tumbuemas Sejahtera, yang ditempatkan di rumah pribadi salah satu pimpinan perusahaan tersebut sejak tahun 2005.

Lazimnya sebagai seorang security, Wahyu mempunyai tugas melakukan pengamanan terhadap harta benda dan diri pimpinannya. Akan tetapi, Wahyu sejak mulai ditempatkan di rumah salah satu pimpinan perusahaan tempatnya bekerja, juga mendapat tugas yang tidak jauh berbeda dengan seorang pembantu rumah tangga.

Wahyu diperintahkan untuk mengantar dan jemput pembantu ke pasar, cuci piring, mobil hingga membersihkan sangkar burung. Karena perintah tugas yang diperintahkan tidak seperti security pada umumnya, Wahyu telah mengajukan keberatan ke PT Suwastama Tumbuemas Sejahtera yang terletak di Jl. Slamet Riya No. 280, Gumpang, Kartasura, Sukoharjo.

Namun perusahaan tempatnya bekerja tidak menjawab keberatan Wahyu, sehingga dikarenakan penambahan beban pekerjaan, membuat dirinya sering tidak masuk kerja karena lelah dan mengakibatkan tidak enak badan.

Akan tetapi, meskipun ketidakhadiran Wahyu selalu disertai surat keterangan dokter dan memberitahukannya ke perusahaan. PT Suwastama tetap memberikan surat peringatan kepada Wahyu, karena melakukan pelanggaran indisipliener berupa tidak masuk bekerja, hingga akhirnya diputuskan hubungan kerja terhitung 22 Maret 2013.

Tak terima dengan PHK sepihak yang dilakukan oleh PT Suwastama, Wahyu mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Semarang, dengan tuntutan pembayaran uang pesangon sebesar Rp.13,8 juta.

Atas gugatan Wahyu, PHI Semarang pada tanggal 31 Oktober 2013, membacakan putusan Nomor 25/G/2013/PHI Smg yang mengabulkan gugatan uang pesangon yang dituntut Wahyu Diantoro sebesar Rp.13,8 juta.

PT Suwastama keberatan terhadap putusan PHI Semarang, karena tindakan Wahyu yang sering tidak masuk bekerja menyebabkan kekacauan pengiriman barang serta keamanan perusahaan, dan merugikan pihak perusahaan.

Atas keberatan tersebut, PT Suwastama mengajukan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung pada tanggal 19 November 2013, sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor 14/Kas/XI/2013/PHI.Smg yang disertai dengan memori kasasi tanggal 26 November 2013.

Namun, kasasi yang diajukan PT Suwastama ditolak oleh Mahkamah Agung, berdasarkan putusan Nomor 67 K/Pdt.Sus-PHI/2014 tanggal 27 Maret 2014. Karena penetapan pemberian uang pesangon sebagaimana putusan PHI Semarang telah tepat, sebagai akibat dari pemutusan hubungan kerja karena telah mendapatkan surat peringatan. (Hz)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of