Sabtu, 20 Juli 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
272

Launching buruhonline.com, Diminta Lebih Mencerdaskan Buruh

Jakarta | Setelah hadir pertama kali sebagai mediaonline pertama yang fokus menyajikan berita penyelesaian sengketa hubungan industrial sejak Rabu (30/4) lalu, dan kemudian berubah dari tampilan blogger menjadi webdesign yang dinamis pada Rabu (16/9). Siang ini, Kamis (4/12) buruhonline bertempat di Hotel Mega Proklamasi, Jakarta melaunching keberadaannya untuk yang pertama kali.

Sebagai mediaonline yang kini telah diakses oleh lebih dari 95 ribu pembaca sejak 16 September 2014 lalu, buruhonline hampir 100% beritanya berisi perjuangan pekerja dan serikatnya dalam memperjuangkan hak-haknya di lembaga penyelesaian perselisihan hubungan industrial, utamanya di Pengadilan Hubungan Industrial dan Mahkamah Agung.

Dihadapan 23 utusan perwakilan serikat pekerja yang hadir dari 30 undangan, yaitu OPSI, SBSI 92, FSPNI, PPMI, FSPS, FSPILN, ABK, Al-Jabar, serta TURC, KPKB, Universitas Nasional dan Pergerakan Indonesia, Hafidz selaku Pimpinan Redaksi meminta masukan dari para peserta yang hadir sebagai perbaikan bagi buruhonline untuk terus sedapat mungkin menyajikan berita yang bermanfaat bagi pegiat perburuhan.

Saeful Tavip dari Organisasi Serikat Pekerja Indonesia (OPSI) menyarankan, agar buruhonline juga turut membantu mempublikasikan tekhnik-tekhnik negosiasi sebagai penguatan fungsi serikat dalam berunding, agar buruh tidak selalu terjebak di lembaga peradilan hubungan industrial. “Buruh juga musti cerdas menyelesaikan masalah tanpa melalui jalur pengadilan”, jelasnya.

Senada dengan Tavip, Endang Rokhani dari KPKB merasa terbantu dengan publikasi berita dari buruhonline. “Kedepan buruhonline harus lebih fokus dengan kasus-kasus yang tidak biasa”, pungkas Endang yang juga menjadi moderator dalam acara Diskusi Panel disela-sela launching buruhonline.

Surya Tjandra dari Trade Union Rights Centre (TURC) mengapresiasi keberadaan buruhonline ditengah minimnya pengetahuan buruh dalam menyelesaikan konfliknya dengan pengusaha. Meski begitu, Surya berpesan bahwa hukum tidak selalu menjadi alternatif penyelesaian sengketa dengan pengusaha.

Pernyataan Surya diaminkan oleh Rumainur selaku Dosen Universitas Nasional (UNAS). Pria lulusan S3 dari Negara tetangga Malaysia yang kini menjabat sebagai Staff Ahli salah satu Kementerian ini, melihat kondisi hukum perburuhan dari tiap pergantian kepala negara diletakkan pada tempat yang salah, sehingga semuanya menjadi berantakan.

Menurut Rumainur, di Malaysia hukumnya mengedepankan penyelesaian masalah pidana terlebih dahulu, setelah itu baru memproses perdatanya. Sehingga, pengusaha-pengusaha yang tidak mengikutsertakan buruhnya ke dalam program jaminan kesehatan dan hari tua menjadi takut, serta patuh terhadap undang-undang yang dibuat.

Berbeda dengan Iskandar Zulkarnaen yang membagi pengalamannya bersama para Tenaga Kerja Indonesia dari sektor Anak Buah Kapal (ABK). Dirinya berharap, buruhonline menyentuh isu-isu buruh migran khususnya para ABK yang masih tidak diperdulikan oleh berbagai macam pihak, termasuk Pemerintah.

Diakhir launching, Presiden Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) Ahmad Fuad Anwar mendapat kehormatan memimpin para peserta berdoa bersama sebagai wujud dari rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan demi perjuangan perbaikan nasib buruh dimasa yang akan datang. (Ys)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of