Type to search

PHI Jakarta Kabulkan Gugatan Pekerja mem-PHK Pengusaha

Share

Jakarta Timur | Dalam hukum ketenagakerjaan, hak pekerja untuk memutuskan hubungan kerja dengan alasan tertentu yang dapat dibenarkan, adalah sesuatu yang lazim dan dikenal dengan istilah constructive dismissal, yaitu digunakan dalam situasi ketika seorang pekerja dipaksa untuk meninggalkan pekerjaan, karena perilaku pengusaha itu sendiri yang tidak dapat diterima oleh pekerja.

Gugatan Aries Firman yang mem-PHK Pengusahanya, yaitu PT Sarana Steel Engineering, diperkuat oleh Mahkamah Agung yang menolak permohonan kasasi perusahaan yang berlokasi di Kawasan Industri Pulogadung, Jl. Pulo Kambing II, No. 11, Jakarta Timur.

Mahkamah Agung dalam putusannya Nomor 321 K/Pdt.Sus-PHI/2014 tanggal 7 Agustus 2014, berpendapat bahwa Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat telah melaksanakan hukum acara dengan benar dalam menjatuhkan Putusan Nomor 144/PHI/G/2013/PN.JKT.PST tanggal 11 November 2013.

Aries mem-PHK pengusahanya, lantaran PT Sarana Steel Engineering tidak lagi membayar upahnya selama 9 (sembilan) bulan berturut-turut, sejak bulan November 2012 hingga bulan Juli 2013. Sehingga menurut Aries, perusahaan telah melakukan perbuatan yang dimaksud dalam ketentuan Pasal 169 ayat (1) huruf c dan d Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Dalam putusannya, PHI Jakarta mengabulkan tuntutan Aries Firman dan menghukum perusahaan untuk membayar uang pesangon uang penghargaan masa kerja dan penggantian hak sebesar Rp.165 juta.

Selain Arie Firman, berdasarkan catatan buruhonline.com terdapat beberapa kasus pekerja yang mem-PHK pengusahanya yaitu Sri Widianti dengan perusahaan CKE Technik berdasarkan Putusan PHI Medan Nomor 69/G/2013/ PHI.Mdn tanggal 07 Januari 2014. Juga ada Sukro Raharjo yang mem-PHK Pengusaha PT Daehan Global, berdasarkan Putusan PHI Bandung Nomor 120/G/2011/PHI/PN.Bdg.

Dalam praktek hubungan industrial, pengaturan ketentuan Pasal 169 ayat (1) UU Ketenagakerjaan, telah berdasarkan prinsip constructive dismissal, pekerja mempunyai hak untuk meninggalkan pekerjaannya sesegera mungkin tanpa harus memberikan pemberitahuan kepada pengusaha dan tindakan tersebut (bila terbukti menurut hukum) dianggap sebagai pemberhentian terhadap pengusaha. (Hz)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *