Kamis, 18 Juli 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
0

FSPILN Desak PJTKI Bayar Gaji TKI ABK Korban PHK Sepihak

Jakarta | Mediasi antara Aris Setiawan TKI ABK dengan Direktur PT. Bersama Karya Persada yang di fasilitasi oleh Crisis Center BNP2TKI belum ada kesepakatan antara kedua belah pihak.

Aris setiawan asal Ngawi Jawa Timur merasa dirinya telah di rugikan oleh pihak Perusahaan pengirimnya yaitu, PT. Bersama Karya Persada. “Saya sudah tanda tangan kontrak selama dua tahun. Tapi, kenapa baru kerja tujuh bulan saya sudah di pulangkan oleh perusahaan di Taiwan dengan alasan yang tidak jelas”, ujar Aris saat pertama datang ke sekretriat FSPILN di Jakarta untuk mengadukan permasalahannya.

Selain itu Aris mengatakan, bahwa pada saat sebelum berangkat ia di suruh untuk membayar uang CHARGE sebesar 6,5 juta Rupiah kepada pihak Perusahaan sebagai biaya administrasi kepengurusan dokumen dan persyaratan lainnya sebagai Anak Buah Kapal (ABK).

300 U$D adalah kesepakatan gajinya perbulan, sesuai yang tertulis di perjanjian kerja. Namun tiba-tiba, Aris di pulangkan tanpa alasan yang jelas. Dari tujuh bulan masa kerjanya hanya di bayar enam bulan, dan itupun masih dikenakan potongan sebesar 450 U$D .

Merasa dirugikan Aris di dampingi FSPILN mengadukan permasalahannya ke Crisis Center BNP2TKI agar bisa memanggil PT. Bersama Karya Persada datang ke BNP2TKI dan melakukan mediasi agar permasalahannya dapat terselesaikan.

“Bagaimana ini, saya sudah bayar uang Charge 6,5 juta kenapa baru kerja 7 bulan sudah dipulangkan, gaji cuma baru dibayar 6 bulan dan itupun masih dikenakan potongan 450 U$D. Ya pokoknya saya minta gaji saya dibayar sesuai perjanjian kerja yang saya tanda tangani yaitu, 24 bulan”, tegas Aris dalam mediasi.

Novianti selaku Direktur PT. Bersama Karya Persada mengatakan, alasan kenapa Aris dipulangkan adalah, bahwa kapal tempat aris bekerja sudah berumur tua, dan sudah waktunya untuk perbaikan atau ganti kapal baru, itu makanya aris di pulangkan.

“Kami sudah bayar gaji aris selama 6 bulan dan kurang 1 bulan lagi karena masih dalam proses di perusahaan taiwan”, tambah Novi.

Menanggapi hal diatas Juru Bicara FSPILN Imam Syafii sekaligus Pendamping Korban mengatakan, perusahaan harus tanggung jawab atas tidak selesainya kontrak kerja. “Korban kan sudah bekerja dengan baik, dan tidak melanggar aturan kerja serta dipulangkan bukan atas kemauan korban sendiri”.

Imam memberikan solusi penyelesaian, yaitu perusahaan bisa memindahkan Aris ke kapal lainnya yang masih beroperasi dengan status sementara atau ABK titipan, karena kapal tempat ia bekerja sedang di perbaiki tanpa harus memulangkan ABK. “Itu kalau memang niat perusahaan baik”, tambah Imam.

Akhirnya, berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, mediasi akan dilanjutkan pekan depan. (Is)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of