Type to search

Tak Bekerja Saat Mogok Kerja Berbeda Dengan Mangkir Bukan Mogok Kerja

Share

Tangerang | Pemanggilan patut dan tertulis yang dimaksud dalam ketentuan Pasal 168 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, terkait dengan ketidakhadiran Pekerja tanpa ada informasi sama sekali kepada Pengusaha selama 5 (lima) hari kerja berturut-turut atau lebih dari pekerja, maka berlaku pemanggilan secara tertulis kepada pekerja secara individual ke alamat pekerja yang tercatat pada perusahaan dalam tenggang waktu masing-masing 3 (tiga) hari kerja.

Sedangkan mogok kerja berkaitan dengan ketidakmauan para pekerja melakukan pekerjaan secara terencana, bersama-sama dan/atau oleh serikat pekerja/serikat buruh untuk menghentikan dan memperlambat pekerjaan, bermakna, mogok dilakukan para pekerja dalam lingkungan kerja secara bersama-sama dengan cara tidak melakukan pekerjaan dan atau memperlambat pelaksanaan pekerjaan.

Mangkir yang dimaksud dalam ketentuan Pasal 162 UU Ketenagakerjaan adalah 5 (lima) hari kerja berturut-turut atau lebih, sedangkan mangkir dalam konteks mogok adalah 7 (tujuh) hari secara berturut-turut dengan menghentikan atau memperlambat pekerjaan.

Atas dasar itulah, Mahkamah Agung dalam Putusannya Nomor 420 K/Pdt.Sus-PHI/2014 tanggal 16 September 2014, menyatakan meskipun mogok kerja yang dilakukan sejak tanggal 10 – 19 April 2013 oleh Khaerudin, dkk (27 orang) selaku karyawan PT Baja Persada Multiperkasa tidak sah, tetapi pemutusan hubungan kerja terhadap mereka, harus disertai dengan pemberian uang pesangon, uang penghargaan masa kerja dan penggantian hak sesuai ketentuan Pasal 156 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) UU Ketenagakerjaan. (Ys)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *