Senin, 18 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
765

Risalah Perselisihan Kepentingan, Digunakan Menggugat PHK

Surabaya | Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi dari Budi Setya Hariaji, SPd, Msi., sekaligus membatalkan Putusan Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 84/G/2013/PHI.Sby, tanggal 16 Desember 2013. Dalam putusannya Nomor 141 K/Pdt.Sus-PHI/2014 tanggal 23 Mei 2014, MA mengadili sendiri dan menyatakan gugatan Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945 Surabaya (YPTA) tidak dapat diterima (Niet Onvankelijke verklaard). 

Dalam pertimbangan hukumnya, MA menilai risalah penyelesaian perselisihan hubungan industrial yang diterbitkan oleh Pegawai Mediator Hubungan Industrial pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Surabaya, adalah risalah penyelesaian perselisihan kepentingan. Sedangkan, YPTA dalam petitum gugatannya meminta PHI Surabaya, untuk menyatakan putus hubungan kerja antara YPTA dengan Budi Setya Hariaji, yang merupakan seorang Guru Sekolah Menengah Atas (SMA) 17 Agustus 1945, Surabaya. 

Lebih lanjut, MA juga menemukan fakta, bahwa risalah mediasi yang digunakan oleh YPTA untuk menggugat Budi, ternyata sama dengan risalah mediasi yang dijadikan dasar untuk mengajukan gugatan dalam perkara di PHI Surabaya Nomor 167/G/2011/PHI.Sby tertanggal 11 Januari 2012, dan telah pula diputus oleh MA dalam tingkat kasasi perkara Nomor 319 K/Pdt.Sus-PHI/2012 tanggal 13 Juni 2012. Sehingga, MA berpendapat dalam perkara gugatan pemutusan hubungan kerja yang diajukan oleh YPTA, tidak dilampiri dengan risalah mediasi, sehingga gugatannya harus dinyatakan tidak diterima. 

Sebelumnya, PHI Surabaya telah menjatuhkan amar putusan terhadap gugatan yang diajukan YPTA dengan Budi. PHI Surabaya menolak eksepsi yang diajukan Budi terkait risalah mediasi, dan menyatakan putus hubungan kerja dengan kualifikasi Pasal 168 UU Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003, terhadap keduanya dengan penetapan uang penggantian hak sebagai kompensasi PHK karena mengundurkan diri sebesar Rp.3,9 juta. 

Budi yang bekerja sejak 23 Juli 1996, dianggap mengundurkan diri oleh YPTA karena telah dipanggil secara tertulis dan patut, untuk masuk dan melakukan pekerjaan pada 29 Mei 2013, 4 Juni 2013, 18 Juni 2013, 24 Juni 2013 dan 26 Juni 2013. Namun Budi tidak memenuhi panggilan, tanpa memberikan keterangan dan alasan yang dapat dipertanggung-jawabkan. Sehingga YPTA menyampaikan surat pengakhiran hubungan kerja pada tanggal 27 Juni 2013. (***Jm)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of