Kamis, 18 Juli 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
2

Buruh Tuding Salah Satu Agenda KAA, Memperluas Outsourcing

Jakarta | Aliansi Masyarakat Antiliberalisasi (Amal), menolak acara Peringatan 60 Tahun KAA, yang akan dilaksanakan tanggal 19 hingga 24 April mendatang di Jakarta dan Bandung. Amal menilai Indonesia telah melenceng dari cita-cita Konferensi Asia Afrika yang tertuang dalam Dasasila Bandung, yang salah satu tujuan diselenggarakannya pertama kali di Bandung pada tahun 1955, adalah menentang imprealisme dan kolonialisme.

“Buktinya, agenda pokok KAA adalah memperluas outsourcing, membahas penanaman modal asing, dan penglepasan empat saham perusahaan milik negara atau BUMN. Di KAA juga akan dibuka bussines summit yang diikuti oleh 605 CEO asing,” kata Ketua Umum Serikat Buruh Sejahtera (SBSI) 1992, Sunarti, di kantornya, Jakarta, Selasa (14/4). SBSI 1992 adalah salah satu organisasi buruh yang tergabung dalam Amal.

Empat BUMN yang akan dijual ke para chief executive officer (CEO) itu, menurut Sunarti, merupakan BUMN yang strategis, yakni Adhi Karya, Waskita Karya, Aneka Tambang, dan Jasa Marga. Karena itu, tentunya akan berdampak bagi masyarakat, terutama buruh.

Tambahan pula, lanjut Sunarti, ada kabar premi BPJS akan naik 3% untuk buruh. Parahnya, uang yang sudah dibayar buruh tak akan kembali lagi, karena memang tidak bersumber dari APBN. Ditambah lagi dengan kesepakan bussines summit tersebut, outsourcing semakin merajalela.

“Itu semua karena perjanjian dengan asing. Kalau Jokowi terus bahas penanaman modal undang investor, terus gimana dengan pengusaha kecil, khususnya buruh dan pedagang kecil?” tutur Sunarti.

Amal pun memberikan peringatan kepada pemerintah tentang agenda tersebut. “Ini ancaman bagi kita. Apakah kita siap? Apakah pemerintah sudah mempersiapkan skill bangsa kita? Apalagi, kita akan memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN tahun depan. Kita belum siap. Banyak sistem yang harus dibenahi dulu,” kata Sunarti. (***pribu)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of