Senin, 16 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
528

Di-PHK Tanpa Kompensasi Setelah Dua Belas Tahun Dikontrak

Ilustrasi.

89garisbebascomPertanyaan :

Saya bekerja mulai tahun 2003 hingga tahun 2015, dengan perjanjian kerja waktu tertentu (kontrak), sebanyak 2 (dua) kali selama 3 (tiga) tahun, tanpa jeda. Selanjutnya saya dikontrak dengan masa kontrak selama 1 (satu) tahun sampai tahun 2015, tetapi tiap 2 (dua) tahun sekali di jeda selama 1 (satu) bulan di tahun 2010 dan memberikan lamaran baru. Pada tahun 2014, saya diberi referensi kerja (yang menerangkan bekerja mulai 2003-2014), dan di tahun 2015 tidak di perpanjang dengan alasan absensi. Di tahun 2010 awal, saya baru diikutkan dalam program Jaminan Hari Tua (JHT), tetapi dengan jam kerja selama 10 (sepuluh) jam, 1 (satu) jam tidak dihitung lembur tetapi hanya intensif. Dengan kondisi hubungan kerja saya diatas, apakah saya dapat pesangon meski bukti hanya referensi kerja, sedangkan salinan kontrak sama sekali tak diberikan? (Achmad Zein)
 

Jawaban :

Terima Kasih atas pertanyaan Saudara, dan telah menjadi Pembaca buruhonline.com. Terhadap pertanyaan saudara, berikut kami uraikan beberapa ketentuan perundang-undangan terkait persoalan yang saudara hadapi. 

Hubungan kerja adalah hubungan antara pekerja/buruh dengan pengusaha yang diikat dengan perjanjian kerja baik dibuat secara lisan maupun tulisan, dengan persyaratan adanya unsur pekerjaan, upah dan perintah, sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Pasal 1 angka 14 dan 15, serta Pasal 50 dan Pasal 51 Undang-Undang Ketenagakerjaan Nomor 13 Tahun 2003. Perjanjian kerja dibuat untuk waktu tidak tertentu atau dibuat untuk waktu tertentu (dikenal dengan istilah kontrak) yang tidak boleh bertentangan dengan Pasal 52 ayat (1) huruf d, karena dapat dinyatakan batal demi hukum (null and void), sebagaimana dimaksud ketentuan Pasal 52 ayat (3) UU Ketenagakerjaan. 

Pekerjaan yang diperintahkan oleh pengusaha, dapat menerapkan perjanjian kerja waktu tertentu, adalah perjanjian yang harus dibuat secara tertulis dan untuk pekerjaan yang sekali selesai atau sementara, yang batasan penyelesaian pekerjaannya disebutkan dalam perjanjian kerja; pekerjaan yang paling lama dapat diselesaikan dalam 3 (tiga) tahun; pekerjaan musiman yang tergantung pada musim atau cuaca, atau untuk memenuhi target atau pesanan yang hanya diberlakukan untuk pekerjaan tambahan; dan pekerjaan yang masih dalam masa percobaan untuk jangka waktu 3 (tiga) tahun, sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 59 ayat (1) UU Ketenagakerjaan, jo. Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5 dan Pasal 8 Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : Kep-100/Men/VI/2004 tentang Ketentuan Pelaksanaan Perjanjian Kerja Waktu Tertentu. 

Penyimpangan perjanjian kerja waktu tertentu tersebut diatas, berakibat demi hukum beralih menjadi perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT), dengan ketentuan pelanggaran terhadap pekerjaan yang sementara dan paling lama 3 (tiga) tahun serta produk baru, beralih menjadi pekerja tetap sejak tidak diperjanjikan lain terkait masa lamanya jeda perpanjangan. Sedangkan, pelanggaran terhadap pekerjaan berdasarkan musim atau cuaca, dan pesanan terhitung sejak adanya hubungan kerja. 

Terkait dengan peristiwa yang saudara alami, maka referensi (surat keterangan pengalaman kerja) yang secara tegas menyebutkan masa kerja saudara, telah cukup menjadi bukti permulaan atas pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 59 ayat (1) huruf b, dan ayat (4) UU Ketenagakerjaan jo. Pasal 3 ayat (2) dan ayat (8) Kep-100/Men/VI/2004, yang berakibat batalnya demi hukum perjanjian kerja waktu tertentu dan beralih menjadi perjanjian kerja waktu tidak tertentu sejak adanya hubungan kerja. 

Terhadap dengan pertanyaan Saudara, mengenai kelebihan jam kerja yang tidak diperhitungkan sebagai upah lembur tetapi diberikan pengganti berupa insentif, maka Saudara dapat membaca artikel : Sepakat Insentif Overtime, Upah Lembur Tak Wajib Dibayar. 

Demikian, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of