Type to search

Sekitar Kita

Nilai Tukar Rupiah Melejit, Industri Kecil Makin Terjepit

Share
Ilustrasi.

Ilustrasi.

Jakarta-Jateng | Nilai tukar rupiah per-1 US$ sore ini, ditutup dengan harga Rp.13.375. Kondisi nilai tukar rupiah yang tak kunjung menguat, mengakibatkan 2 (dua) perusahaan di Jakarta Timur terancam tutup. Demikian dikatakan Kepala Suku Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Jakarta Timur, Abriw Ismail, Senin (15/6) kemarin.

Menurutnya, kedua perusahaan tersebut adalah PT Mekar Presindo Oetama dan PT Mustika Wira, yang kini sedang menjalani pemeriksaan dan dapat berujung pada pencabutan izin usaha. Abriw tidak menjelaskan mengenai penyebab terhadap pencabutan izin usaha kedua perusahaan tersebut, tetapi dirinya akan terus memberikan upaya maksimal terhadap pemenuhan hak-hak pekerja sampai persoalan yang dihadapi kedua perusahaan tersebut selesai.

Sedangkan di Jawa Tengah, ada beberapa perusahaan yang kondisinya sehat, namun ada juga yang tidak sehat akibat dari kondisi ekonomi Indonesia yang tidak stabil. “Pertumbuhan ekonomi di bawah 5% dan ini sangat berpengaruh,” ujar Dedi Mulyadi, General Manager di PT Sandang Asia Maju Abadi.

Dedi yang juga Ketua Bidang Industri Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jawa Tengah, menegaskan, menghadapi kondisi sulit saat ini banyak perusahaan yang sudah mulai melakukan efisiensi produktivitas dengan mengurangi jam kerja karyawan. “Yang bisa dilakukan pertama adalah mengurangi jam kerja, dan juga efisiensi produktivitas sampai merumahkan karyawan. Tapi, untuk merumahkan karyawan ini pilihan terakhir karena akan semakin menyulitkan karyawan,” jelasnya.

Senada dengan Dedi, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jawa Tengah (Jateng), Frans Kongi mengkhawatirkan terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran yang dilakukan kalangan industri, jika kondisi perekonomian Indonesia tak kunjung membaik. Dia mengakui, sudah ada beberapa perusahaan yang terpaksa melakukan PHK terhadap karyawan meski tidak banyak. Namun, Frans enggan menyebutkan perusahaan mana saja yang sudah melakukan PHK. Saat ini masih disesuaikan dengan kebutuhan dan juga kemampuan dari perusahaan itu sendiri.

Menurutnya, opsi PHK karyawan menjadi beban berat perusahaan. Namun, hal itu terpaksa dilakukan karena perusahaan tidak mampu meski harus ada konsekuensi membayar pesangon. “Saya mengakui sudah ada beberapa perusahaan yang merumahkan karyawannya, karena ketidakmampuan perusahaan. Perusahanan tidak mungkin memaksakan diri dengan kondisi seperti ini dari pada rugi terus,” ungkapnya.

Kalangan pengusaha berharap, agar pemerintah cepat melakukan pencarian dana kegiatan pembangunan supaya ekonomi kembali menggeliat. Di sisi lain, pengusaha berharap pemerintah, bisa melakukan penguatan terhadap dolar AS (USD) yang cenderung tidak stabil. “Harga USD tidak stabil, padahal bahan baku impor dan ini jelas menyulitkan pengusaha,” tegasnya. (***Sol)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *