Type to search

Buruh Migran

TKI Divonis Mati “Khirabah” di Jeddah, Keluarga Datangi Kemlu

Share
Keluarga Ato Suparto, ketika mendengar vonis mati dari Pengadilan umum Jeddah, Arab Saudi.

Keluarga Ato Suparto, ketika mendengar vonis mati dari Pengadilan umum Jeddah, Arab Saudi.

Jakarta | Vonis hukuman mati secara ta’zir yang dijatuhkan Pengadilan Umum Jeddah, Arab Saudi terhadap Siti Komariah Binti Kadir Ujang, dibatalkan dan diubah oleh Pengadilan Banding menjadi hukuman 5 (lima) tahun penjara. Menanggapi vonis tersebut, berarti Siti Komariah tinggal menjalani sisa masa tahanan 1 (satu) tahun lagi.

Sedangkan terhadap Ato Suparto alias Nawali Hasan Ikhsan dan Agus Ahmad Arwas alias Iwan Irawan Empud Arwas, tetap dihukum dengan hukuman khirabah (hukuman mati yang tidak membuka celah untuk mendapatkan pemaafan/tanazul baik dari negara maupun dari ahli waris korban), atas tuduhan membunuh dan memerkosa secara berencana Fatmah, yang juga berprofesi sebagai TKI.

Siti Komariah dapat lolos dari hukuman mati pada Pengadilan Banding, karena hanya terbukti menyembunyikan informasi atas kasus pembunuhan tersebut. Meskipun telah di vonis mati, tetapi Majelis Hakim yang dipimpin oleh Hakim Abdullah Alqami, menyampaikan bahwa keduanya diberikan waktu selama 30 (tiga puluh) hari untuk mengajukan banding kembali atas putusan tersebut.

Terhadap vonis pengadilan tersebut, Serikat Pekerja Indonesia Luar Negeri (SPILN) menghimbau Kementerian Luar Negeri untuk segera menunjuk lawyer handal, guna memberikan bantuan hukum secara maksimal kepada ketiga Tenaga Kerja Indonesia (TKI) itu, khususnya kepada Ato dan Agus.

Di Jakarta, Enah (kakak kandung Ato) dengan didampingi oleh SPILN, mendatangi Kemlu, Senin (15/6) siang tadi. Menurut Enah, melalui pesan singkatnya Ato berkata bahwa dirinya tidak merasa melakukan perbuatan tersebut. Namun, masalahnya Ato kesulitan untuk berkomunikasi langsung dengan pengacaranya disana.

Mendapat pengaduan tersebut, Upi Ami Selaku staf fungsional Kemlu kawasan Timur Tengah menyatakan, kenapa Ato tidak menyampaikan hal ini langsung kepada Konsulat Jenderal (Konjen) Republik Indonesia. “Sekarang sudah mepet waktunya, sebaiknya Ato membuat surat pengakuan tertulis yang sejujurnya dan diserahkan kepada petugas Sipir penjara agar bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan,” ujar Upi Ami kepada Bambang Suherman, Satuan Tugas SPILN di ruangannya.

Berdasarkan saran tersebut, pihak keluarga Ato membuat surat tertulis yang ditujukan kepada pihak terkait di Konjen RI, apa yang telah Ato sampaikan kepada pihak keluarga agar bisa dijadikan sebagai bukti tambahan. Adapun harapan dari keluarga Ato kepada pemerintah Indonesia, agar mau memberikan pendampingan terhadap kasus Ato secara maksimal, agar Ato dapat terbebaskan dari vonis matinya atau minimal bisa diringankan hukumannya seperti apa yang terjadi pada Siti Komariah. (***Is)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *