Senin, 18 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
408

Hakim Irfan Tegaskan Beban Pembuktian Dibebankan Pada Perusahaan

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jakarta | Majelis Hakim Mahkamah Agung (MA) pada tingkat Kasasi yang diketuai oleh Hakim Irfan Fachruddin, yang memeriksa dan mengadili perkara pemutusan hubungan kerja (PHK) Kusnadi, dkk (5 orang) melawan PT Dwiyopi, menyatakan beban pembuktian mengenai masa kerja sebagai administrasi kepegawaian yang dikuasai oleh perusahaan, maka berdasarkan prinsip beban pembuktian yang adil, untuk membuktikan mengenai masa kerja adalah tanggung jawab perusahaan.

Demikian amar pertimbangan hukum dalam putusan MA Nomor 672 K/Pdt.Sus-PHI/2014 yang dibacakan oleh Hakim Irfan, Rabu (14/1/2015) di Gedung MA, Jakarta. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa ketidak-hadiran perusahaan dalam persidangan di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, telah cukup untuk menyatakan dalil gugatan Kusnadi, dkk terbukti, karena perusahaan tidak dapat membuktikan sebaliknya.

“Membatalkan Putusan Pengadilan Hubungan Industrial pada PengadilanNegeri Jakarta Pusat Nomor 8/PHI.G/2014/PN.Jkt.Pst tanggal 26 Mei 2014,” ucap Hakim Irfan membacakan amar putusan yang tidak sependapat dengan Putusan PHI Jakarta Pusat. Sebelumnya, PHI Jakarta Pusat menyatakan gugatan Kusnadi, dkk tidak dapat diterima. Sebab, Kusnadi tidak dapat menunjukkan bukti-bukti asli tentang adanya hubungan hukum dengan perusahaan, melainkan hanya menghadirkan 2 (dua) orang saksi yang pernah bekerja dan mengetahui keberadaan Kusnadi yang bekerja di perusahaan.

MA menilai, PHK sejak November 2012 yang dilakukan oleh perusahaan yang berlokasi di Jalan Kelapa Puan Raya, Blok FU Nomor 17 Kelapa Gading Timur, Jakarta Utara itu, harus disertai dengan pemberian uang pesangon karena putusnya hubungan kerja bukan karena kesalahan Kusnadi, dkk.

“Menghukum Tergugat untuk membayar membayarkan secara tunai dan sekaligus hak-hak Para Penggugat dengan total sebesar Rp141.680.000,00 (seratus empat puluh satu juta enam ratus delapan puluh ribu rupiah),” jelas Hakim Irfan. (***Jm)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of