Senin, 22 Juli 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
532

Idul Fitri, Di Peru 55 TKI Pelaut Terdiskriminasi Haknya

Crew asal Indonesia di kapal Lafayette (dok. FSPILN).
Crew asal Indonesia di kapal Lafayette (dok. FSPILN).
Crew asal Indonesia di kapal Lafayette (dok. FSPILN).

Peru | Dihari Raya Idul Fitri, sebanyak 55 Tenaga Kerja Indonesia sektor laut (TKI Pelaut) di pelabuhan Peru, Amerika Selatan, mengaku dirugikan oleh pihak PT. Siaman Indonesia selaku perusahaan pengirim mereka. Pasalnya, walau sudah sepakat berdasarkan Perjanjian Kerja Laut (PKL) yang ditandatangani pada sebelum mereka diberangkatkan, namun ternyata ada perbedaan gaji yang sangat jauh. Selain itu, gaji mereka yang dikirim via transfer ke rekening keluarga oleh pihak perusahaan tidak sesuai dengan kurs dollar saat ini.

“Gaji kami $300 perbulan, dengan rincian $250 dikirim ke rekening keluarga dirumah pertiga bulan dan yang $50 diterima diatas kapal. Tetapi pada kenyataannya, gaji kami yang dikirimkan tidak sesuai dengan nilai kurs dollar saat ini. Selain itu, berdasarkan Perjanian Kerja Laut (PKL) gaji kami disimpan di kantor perusahaan pengirim sebesar $800 hingga $1000 sebagai jaminan dan bisa diambil ketika kami finis kontrak,” ujar Ade salah satu korban yang mengadu kepada Forum Solidaritas Pekerja Indonesia Luar Negeri (FSPILN), Kamis (16/7/2015).

Ketika ditanya lebih jauh lagi, mereka menyatakan bahwa ada perbedaan yang sangat jauh terkait gaji. Misal, dengan jabatan yang sama (ABK) asal Indonesia hanya digaji $300/bulan. Sedangkan untuk yang berasal dari China, gaji mereka bisa $600/bulan. Padahal jabatan dan kerjaannya sama. “Sudah gajinya kecil, kiriman pertiga bulan yang harusnya sesuai kurs malah kurang banyak,” celetuk Ade.

Mereka, mengaku dipekerjakan diatas Kapal Motherships (Kolekting) yang bernama F/V Lafayette. Lafayette adalah sebuah kapal besar pengolah ikan makarel (sarden). Lanjut Ade, pada tanggal 15 Desember 2013, dirinya dan teman-temannya meninggalkan Indonesia melalui landasan udara bandara Soekarno Hatta menuju Beijing, dari Beijing mereka kembali naik pesawat ke Weihay, China. Dari Weihay mereka dibawa ke pelabuhan Xixiakou di China dengan Bus, di pelabuhan China ke Peru menggunakan kapal Lafayette.

Ade juga menjelaskan, jika ia tak mengetahui Perusahaan tersebut dimana. Sebab dirinya berangkat melalui sponsornya yang langsung di bawa ke penampungan Perusahaan tersebut di daerah Rawa Buaya, Jakarta. Namun menurut temannya, perusahaan tersebut memiliki kantor cabang di daerah Tegal, Jawa Tengah.

Menelisik lebih dalam lagi, ternyata nama pimpinan perusahaan tersebut diketahui bernama Sumarto. Seperti diketahui sebelumnya, Sumarto merupakan orang dari kepercayaan Willy (Direktur Karltigo) yang pernah terlibat kasus perdagangan ratusan manusia di perairan Trinidad and Tobago yang terbongkar pada 2012 silam. Willy sudah dihukum dan dipenjara, namun kabarnya sudah bebas karena hanya divonis 1,6 tahun saja pasca kasus tersebut.

Dan Sumarto adalah salah satu orang kepercayaan Willy, bahkan pada saat itu Sumarto dipercaya oleh Willy untuk menjadi pimpinan cabang PT. Karltigo di Tegal. Tetapi, pasca dipenjaranya Willy dan Sujai Sumarto seperti hilang ditelan bumi dan baru saat ini namanya kembali muncul dengan nama perusahaan yang berbeda.

Diungkap oleh Ade, bahwa seharusnya Desember ini ia baru selesai kontrak dan pulang. Namun kabarnya, mereka dinyatakan sudah selesai kontrak dan akan dipulangkan pada Agustus atau September ini, karena Kapal Lafayette sedang ditahan oleh otoritas pelabuhan di Peru bersama 6 kapal lainnya, dan kapal tersebut tidak boleh keluar serta meninggalkan pelabuhan Peru karena tidak ada surat ijin untuk keluar. (***Is)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of