Selasa, 17 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
468

Diusir Dari Acara Kunjungan Menaker di Taiwan, WNI Ini Kecewa

Acara Dialog dalam kunjungan Menaker ke Taiwan yang dilakukan di kantor PCI NU Taiwan, (25/8), (Adi Permadi, Tengah).
Acara Dialog dalam kunjungan Menaker ke Taiwan yang dilakukan di kantor PCI NU Taiwan, (25/8), (Adi Permadi, Tengah).
Acara Dialog dalam kunjungan Menaker ke Taiwan yang dilakukan di kantor PCI NU Taiwan, (25/8), (Adi Permadi, Tengah).

Taiwan | Kunjungan Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dakhiri dan beberapa stafnya ke Hong Kong dan Taiwan beberapa hari yang lalu, banyak mendapat protes dari kalangan para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dalam acara tersebut. Menaker pada saat berdialog dengan sejumlah tamu undangan para TKI dikecam, salah satu diantaranya oleh perwakilan dari Aliansi Migran Progresif (AMP).

AMP menyatakan jika Pemerintah belum maksimal melindungi TKI, dari pertanyaan yang diajukan kepada Menaker hanya dicatat dan akan dipelajari dulu, tutur Umi Sidarta, wakil dari AMP yang hadir dalam dialog tersebut di Hong Kong.

Sementara itu, di Taiwan, acara Menaker yang digelar di kantor PCI NU Taiwan juga mendapat kritik dari salah satu tamu undangan yang hadir dalam acara yang digelar Selasa, (25/8/2015) lalu. “Saya ingin menyampaikan uneg-uneg saya kepada pak Menteri. Kenapa saya tidak diperkenankan mengikuti acara tersebut? Padahal nama saya masuk dalam 20 peserta undangan yang diundang,” ujar Adi Permadi, WNI yang juga menjadi jurnalis di Taiwan seperti dikutip dari akun kompasiana miliknya.

Lanjut, kata Adi, ketika kunjungan bapak ke kantor PCI NU Taiwan, sebenarnya merupakan kesempatan bagi saya untuk bertemu dengan pak Menteri. Ia bersama teman-teman TKI lainnya sudah berada di dalam ruangan menunggu kedatangan  Menaker. Nama ia juga tertera sebagai salah satu nama dari 20 orang perwakilan tenaga kerja dan organisasi serta media.

Awalnya, Adi bersama rekan-rekan lain mendapat pemberitahuan dari Bapak Untung, staf KDEI Taipei, bahwa tidak diperkenankan untuk melakukan peliputan. “Ini mau saya garis bawahi dulu, namanya peliputan itu tidak melulu harus dari orang media, tetapi bisa juga orang yang bukan media menyampaikan berita atau liputan itu kepada media. Sehingga siapapun berkedudukan sama antara orang media dan orang bukan dari media. Sebuah liputan itu bisa berupa publikasi pada media cetak, elektronik ataupun sekedar posting berita via facebook, twitter, instagram ataupun blog pribadi,” ujar Adi.

Adi menyatakan masih bisa menerima hal yang disampaikan oleh Bapak Untung. Mungkin sesuatu pertimbangan dari segi konten terkait dengan pertemuan tersebut, pikir ia. Namun, salah satu staf Menaker meminta sterilisasi dari orang media di dalam ruangan. Orang yang berafiliasi dengan media diminta keluar ruangan, dengan berat hati, tuan rumah PCI NU Taiwan meminta saya keluar dari ruangan, tutup Adi. (***Is)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of