Type to search

Berita

Tak Terima Sembilan Mobilnya di-Sita, Pengusaha Ajukan Perlawanan

Share
Ilustrasi. (foto: poskotanews.com)

Ilustrasi. (foto: poskotanews.com)

Pontianak | Sie Ngi alias Edy selaku pemilik dari CV Sarana Express tak terima dengan eksekusi terhadap 9 (sembilan) mobil miliknya, yang disita oleh Juru Sita Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Pontianak, Selasa (6/1/2015) lalu. Edy beralasan, bahwa sembilan kendaraan truck Mitsubishi adalah milik pribadinya, sedangkan eksekusi yang dilakukan oleh pihak pengadilan untuk memenuhi kewajiban CV Jasa Mandiri, demikian tutur Edy didalam gugatan perlawanan yang diajukannya pada 5 Januari 2015.

Edy dalam gugatan perlawanan yang diregister dengan Nomor 02/Pdt.Sus-PHI/Plw/2015/PN.Ptk, mendalilkan dirinya dipaksa untuk bertanggung-jawab terhadap pemenuhan pembayaran uang pesangon M. Saleh, dkk (26 orang). Lebih lanjut Edy menyatakan keberatannya, terhadap kewajiban CV Jasa Mandiri kepada dirinya untuk membayar iuran Jaminan Hari Tua (JHT). Atas keberatan tersebut, Edy meminta agar PHI Pontianak menyatakan permohonan sita eksekusi yang telah dikabulkan oleh pihak pengadilan, dinyatakan sebagai Sita Non Eksekutabel.

Dilain pihak, M Soleh dkk menolak dengan tegas alasan yang dikemukakan oleh Edy. Menurut mereka, dalil argumentasi yang disampaikan oleh Edy merupakan dalil pengulangan dari alasan kasasi yang telah diputus oleh Mahkamah Agung (MA) dalam perkara Nomor 203/Pdt.Sus-PHI/2013, dengan amar putusan kasasi CV Sarana Express ditolak.

Terhadap penolakan kasasi tersebut, M Soleh melalui kuasa hukumnya, Effendy Y, SH berpendapat, Putusan PHI Pontianak Nomor 12/G/2012/PHI.PN.Ptk telah memiliki kekuatan hukum mengikat (inkracht van gewijsde). Sehingga terhadap amar putusannya dapat diajukan eksekusi, apabila pihak yang dikalahkan yaitu CV Sarana Express tidak memenuhi kewajibannya seperti tertuang didalam putusan.

Menurut Hakim Yamto Susena selaku Ketua Majelis Hakim PHI Pontianak, pertanggungan jawaban keuangan pada Persekutuan Komanditer CV, terhadap hubungan pembayaran utang dengan pihak ketiga, tidak hanya terbatas pada modal yang dimiliki perusahaan, tetapi juga meliputi harta kekayaan milik pribadi sekutu aktif, atau sekutu komplementer terhadap utang-utang yang belum dilunasi.

Dengan demikian, Hakim Yamto berkesimpulan, bahwa untuk menjalankan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap, maka mengenai tindakan penyitaan yang dilakukan oleh Juru Sita PHI Pontianak telah sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, yaitu dengan meletakkan sita barang milik Edy yang merupakan pemilik dari CV Sarana Express.

“Menimbang, bahwa sesuai uraian pertimbangan diatas, terbukti proses Sita Eksekusi (executorialbeslag) tersebut tidak melonggarkan kaidah hukum acara yang berlaku, maka oleh karenanya terhadap petitum gugatan perlawanan Pelawan haruslah dinyatakan ditolak,” tutur Hakim Yamto membacakan pertimbangan hukum, Selasa (12/5/2015) yang dihadiri oleh masing-masing kuasa hukum para pihak. (***Jm)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *