Type to search

Buruh Migran

Berpenumpang TKI, Kapal Pengangkut Tenggelam di Malaysia

Share
Ilustrasi.

Ilustrasi.

Malaysia | Insiden tenggelamnya kapal pengangkut puluhan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang terjadi di lepas pantai barat Malaysia, Kamis (3/9/2015) di dekat Sauh Cape kota Pesisir Sabak, Bernam, Selangor, hingga Minggu (6/9/2015) tim SAR masih melakukan pencarian para korban pada tragedi tersebut.

Ketua Serikat Pekerja Indonesia Luar Negeri (SPILN) Cabang Malaysia, Figo Kurniawan menyatakan dalam kondisi ini, negara sangat diperlukan kehadirannya. “Tak perlu bicara legal dan ilegal, mereka itu warganegara Indonesia yang patut mendapatkan hak keadilan sosial,” ujar Figo kepada buruhonline.com via telepon ketika dihubungi.

Lanjut, Figo, terkait usulan kepala Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), pembentukan poros perbatasan di Nunukan, Kalimantan Barat, dan Batam, guna melegalisasi TKI ilegal lewat pengurusan surat-surat di lokasi poros perbatasan tersebut, dianggap upaya yang cukup bagus. Namun, masalahnya yang perlu dipertegas adalah apakah pembentukan poros tersebut akan dilakukan atau hanya wacana yang berujung pencitraan,” tanyanya yang juga seorang TKI di Malaysia.

Untuk diketahui, sebelum pasca insiden tersebut, Kepala BNP2TKI, Nusron Wahid, mengatakan bahwa puluhan warga Indonesia yang menjadi korban adalah TKI ilegal yang hendak masuk ke Malaysia. Meski begitu, negara akan tetap memberikan santunan kepada korban.

Nusron juga mengakui, lalu lintas TKI ilegal dengan perahu sejenis bisa memiliki frekuensi lima hingga enam kali selama sehari, yang terjadi di sejumlah titik perbatasan Indonesia-Malaysia. Jumlah pekerja ilegal yang diselundupkan bisa mencapai ratusan. Lantaran itulah, pihaknya menyarankan pembentukan poros perbatasan di Nunukan, Kalimantan Barat, dan Batam. Fungsinya, melegalisasi TKI ilegal lewat pengurusan surat-surat di lokasi poros perbatasan itu.

Permasalahan TKI illegal, khususnya di Malaysia sudah cukup jelas. Jadi saat ini adalah saatnya bertindak, bukan sekedar melempar wacana dengan menyarankan membentuk ini-itu,” pungkas lelaki asal Jawa Timur tersebut. (***Is)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *