Senin, 18 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
1.640

Disiksa dan Dianiaya, ABK Tuntut Pembayaran Gaji dan Ganti Rugi

Gedung Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Jl. Jend. MT Haryono, Jakarta.
Gedung Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Jl. Jend. MT Haryono, Jakarta.

Afrika Selatan | Sering disiksa dan diberi makan tidak layak, lima orang Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia kabur dari kapal Changrong berbendera China di perairan Cape Town, Afrika Selatan. “Kami baru kerja satu bulan, kami sering dipukul dan ditendang oleh mandor kapal. Selain itu, kami Muslim tapi sering dikasih makan daging babi. Tak kuat, kami pun sepakat untuk kabur dari atas kapal,” ujar Toyib, salah satu korban kepada Serikat Pekerja Indonesia Luar Negeri (SPILN) ketika mengadukan kasusnya, Kamis (10/9).

Kepada SPILN, kelima korban tersebut kabur dari atas kapal saat sedang berlabuh di pelabuhan Cape Town, setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 20 hari dari Singapura. “Dalam perjalanan tersebut, kami setiap hari dilatih cara bekerja. Dari jam setengah enam pagi hingga jam enam sore, tendangan dan pukulan serta sabetan bambu bambu saat kami melakukan kesalahan dalam latihan bekerja,” papar Toyib pemuda asal Cirebon, Jawa Barat yang sudah dua kali kerja di luar negeri sebagai ABK.

Mereka mengaku diberangkatkan melalui PT. Shafar Abadi Indonesia, yang berdomisili di daerah Bekasi Selatan. Sebelum berangkat mereka diminta untuk membayar uang charge masing-masing sebesar Rp. 5,5 juta. Karena faktor tidak ada biaya, akhirnya mereka sepakat uang charge dipotong dari gaji jika mereka sudah bekerja. “Dari kelima orang korban, hanya satu orang yang sudah bayar charge. Itupun baru Rp. 1,3 juta, sisanya nanti potong gaji,” ungkap Rahmat, yang juga menjadi korban.

Kelima korban diantaranya, empat orang berasal dari Cirebon, Jawa Barat, dan 1 orang lagi dari Brebes, Jawa Tengah. Toyib, Rahmat, Dalim, dan Wasid dari Cirebon, dan Akhmad Miftahul izzin dari Brebes. Mereka diketahui bisa pulang ke Indonesia karena dibantu oleh ABK yang bekerja di kapal cumi Korea, kebetulan sedang bersandar di pelabuhan Cape Town.

Sujarwo yang merupakan salah satu Tim di SPILN menyatakan, bahwa banyak terjadi pelanggaran terhadap para korban. Dari penyiksaan, penipuan, hingga terindikasi perdagangan orang. “Siang ini (10/9) jam 10 pagi kami akan ditemukan dengan pihak perusahaan di ruang mediasi CC BNP2TKI, semoga kasus tersebut bisa ada titik temu. Jika tidak, ya kami akan lakukan dengan upaya lain,” tutup Sujarwo. (***Is)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of