Kamis, 18 Juli 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
1.013

Kerap Disunat, ABK Keluhkan Gaji dan Potongan

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Taiwan | Serikat Pekerja Indonesia Luar Negeri (SPILN), mendesak Pemerintah untuk segera menindak tegas perusahaan yang diketahui telah memotong gaji para pekerja yang dikirim ke luar negeri. “Kasus potong gaji tinggi bukan hanya terjadi di Singapura dan menimpa pekerja di sektor rumah tangga saja, namun hal seperti itu sudah lama dan mengakar pada para pekerja Indonesia di luar negeri yang berprofesi sebagai anak buah kapal (ABK) di kapal penangkap ikan,” ujar Darlim, Ketua SPILN Cabang Taiwan kepada buruhonline.com via rilisnya, Rabu (16/9) kemarin.

Lanjut, Darlim, para pekerja terkendala biaya keberangkatan, akhirnya perusahaan dengan sesuka hati memotong gaji para pekerjanya dengan modus biaya penempatan dibayar nanti setelah pekerja bekerja di luar negeri. Para ABK tanda-tangani kontrak dua tahun, misal gaji perbulannya 300 dollar. Sistem pembayaran gajinya delegasi, biasanya 50 dollar diterima diatas kapal ketika kapal bersandar. 100 dollar ditahan perusahaan pengirim di Indonesia selama 8 hingga 10 bulan sebagai jaminan. Dan 150 dollar lagi dibayar pertiga bulan melaui transfer setelah dipotong biaya penempatan 4 sampai 6 bulan.

Jika pekerja minta pulang sebelum menyelesaikan kontrak kerjanya, maka uang jaminan tersebut pun akan dianggap hangus. Padahal, banyak sekali penyebab kenapa pekerja minta pulang sebelum selesai kontrak. Seperti, jam kerja yang melebihi batas dan tidak ada hitungan upah lembur atau bonus, sering mendapat kekerasan baik oleh kapten maupun mandor di kapal, makan-makanan yang kurang higinies. Bahkan kerap tak memperdulikan agama, meski mayoritas pekerja asal Indonesia itu muslim namun kerap diberi makanan yang mengandung minyak babi, papar Darlim.

Itu baru bicara uang gaji yang ditahan sebagai jaminan dan uang potongan, belum lagi, 50 dollar yang dijanjikan diterima diatas kapal ketika sandar itupun jarang para pekerja menerimanya. Sialnya, gaji yang ditransfer ke rekening keluarga kerap disunat nilai kurs nya oleh perusahaan pengirim, keluhnya.

Masih ada lagi, dengan jabatan yang sama di atas kapal sebagai ABK terdapat diskriminasi seputar gaji. ABK asal China gaji perbulannya hingga 30 ribu dollar Taiwan (NT), untuk ABK asal Filiphina 19 ribu NT, sedangkan ABK asal Indonesia hanya digaji 16 ribu NT saja. “Kok bisa, ini kenapa dan ada apa?,” tutup Darlim. (***Is)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of