Senin, 16 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
403

Aktif Melayani, Petugas Crisis Center BNP2TKI Justru Dianggap Rugikan Negara

Gedung Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Jl. Jend. MT Haryono, Jakarta.
Gedung Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), Jl. Jend. MT Haryono, Jakarta.

Jakarta | Bekerja di sebuah unit pengaduan masyarakat milik lembaga pemerintah adalah impiannya, karena disitu dirinya merasa berarti untuk siapa saja pengadu yang membutuhkan pertolongan. “Ya. Saya kerja di unit pengaduan Crisis Center Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia, atau sering dikenal dengan CC BNP2TKI,” ujar Pekerja alih daya yang juga aktif sebagai seorang aktifis di sebuah organisasi buruh migran Indonesia kepada kontributor buruhonline.

Melalui salahsatu perusahaan penempatan tenaga kerja (outsourcing), ia bekerja dan ditempatkan sebagai petugas di CC BNP2TKI. Namun anehnya, dalam Perjanjian Kerja (PK) yang ia tandatangani, tidak tertera dimana dirinya ditempatkan. “Memang tertera pekerjaan saya sebagai Petugas CC BNP2TKI, tapi tidak disebutkan pada bagian apa saya bekerja, apakah di Call Center, Front Office, atau Back Office?,” paparnya bingung.

Lanjut, kata ia, dari awal sejak PK tersebut ditandatangani, dirinya sudah menanyakan perihal penempatan tugasnya dimana. Tapi, pihak outsourcing menyuruhnya untuk datang saja (kerja) dan terima gaji. “Meski di sampaikan begitu, saya tidak menyukai datang, duduk, diam, dan pulang,” ungkapnya. Dirinya pernah dipanggil pihak outsourcing (17/6/15) lalu, dan menyatakan berdasarkan hasil audit, negara menyatakan merasa telah rugi membayar gaji kepada ia jika dirinya tidak bekerja sebagaimana mestinya, celetuknya menirukan ucapan pihak outsourcing ketika ia dipanggil pada saat itu.

Kepedulian dan keberpihakannya atas persoalan-persoalan di layanan pengaduan CC BNP2TKI sejak tahun 2013, sepertinya tidak terlalu disukai, padahal dirinya sangat mencintai pekerjaan kemanusiaan tersebut. “Saya melihat dan mendengar sendiri orang-orang yang datang di Crisis Center adalah sebagian besar orang-orang dari desa, tanpa pendamping yang ingin mengadukan nasib anggota keluarganya yang sedang terlibat masalah ketika bekerja di luar negeri,” katanya.

“Saya hanya staf biasa, tidak pernah mengeluh dengan gaji yang dibawah UMR, saya kerja dibidang perlindungan tapi merasa negara tidak bisa juga melindungi orang-orang seperti saya. Ketika ada di lembaga negara ini yang mana kita berperan membantu TKI, nasib saya sebagai pekerja di CC BNP2TKI pun tidak jauh lebih baik kenyataannya,” tutupnya sambil bersedih. (***Is)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of