Selasa, 17 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
394

Diperlakukan Sewenang-Wenang, ABK Tuntut Pengembalian Uang Jaminan

Para ABK didampingi oleh Serikat Pekerja Indonesia Luar Negeri (SPILN) saat mediasi di BNP2TKI.
Para ABK didampingi oleh Serikat Pekerja Indonesia Luar Negeri (SPILN) saat mediasi di BNP2TKI.
Para ABK didampingi oleh Serikat Pekerja Indonesia Luar Negeri (SPILN) saat mediasi di BNP2TKI.

Jakarta | Jadi korban kekerasan diatas kapal ikan, delapan anak buah kapal (ABK) asal Indonesia minta pulang. “Kami 13 bulan kerja, diperlakukan tak layak, kami minta pulang. Setelah pulang, jaminan dan uang simpanan kami tak diberikan dengan alasan kami dianggap melanggar kontrak,” ujar Fajar, salah satu korban kepada buruh-online seusai mediasi yang digelar di ruang mediasi Crisis Center Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (CC BNP2TKI), Senin (26/10) kemarin.

Dalam mediasi tersebut, pihak perusahaan yang hadir diwakilkan oleh Nova, sedangkan para ABK didampingi oleh Serikat Pekerja Indonesia Luar Negeri (SPILN). Pihak perusahaan tetap bersikukuh bahwa para ABK telah melanggar kontrak kerja, “Kan sudah jelas dalam perjanjian kerja, jika pulang sebelum selesai kontrak maka uang jaminan dan simpanan tidak akan keluar,” tegas Nova.

Sedangkan dari sisi ABK selaku korban, menyatakan jika kami di kapal tidak diperlakukan seenaknya saja, dan tidak sering dipukul serta di hina, kamipun tidak bakal minta dipulangkan meski kerjanya melebihi batas normal ukuran buruh bekerja, pungkas Fajar, ABK kelahiran Tegal, Jawa Tengah, yang kini tinggal di Salatiga, Semarang.

Kemudian Teguh selaku Direktur Mediasi dan Advokasi BNP2TKI, dirinya menyarankan agar mediasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mencari solusi penyelesaian. “Tujuan kita jangan saling menyalahkan, tapi carilah solusi, mari kita bersama-sama selesaikan. Saran saya kepada pihak perusahaan, jika saat ini masih ada hak para ABK yang belum dibayar, ya sebaiknya dibayar. Jika masih ada yang perlu di klarifikasi tentang keakuratan data, silahkan pihak perusahaan bantu cek semaksimal mungkin ke majikan di luar negeri,” tegasnya.

Sementara pihak SPILN selaku pendamping ABK menyebutkan, ada indikasi tidak baik. Pasalnya, sebelumnya pada akhir Januari 2015, para ABK sempat melakukan protes di luar negeri dan menuntut agar para ABK dipulangkan semua. Penyebabnya adalah ketika mereka tahu ternyata dokumen buku pelaut mereka telah dipalsukan. Para ABK juga sempat di larang oleh pihak KBRI di Cape Town, Afrika, untuk tidak kembali kerja ke tengah laut. Namun, pihak perusahaan PT. LPB mengirim salah satu stafnya ke Cape Town dan menemui pihak manager di sana untuk menuruti permintaan para ABK.

Dalam aksi protes tersebut, para ABK menuntut dipulangkan atau gajinya dikirim secara benar dengan jumlah 250 dollar/bulan dari sebelumnya sesuai perjanjian kerja yang dikirim 150 dollar/bulan. Permintaan para ABK pun di kabulkan, pihak manager Dalian Fishery co. ltd menyetujuinya. Namun, kenyataannya itu pun tidak direalisasi. Hingga akhirnya para ABK kembali berlayar dan di laut, mereka mendapatkan penyiksaan dan akhirnya minta pulang karena tak kuat.

Untuk diketahui, mediasi lanjutan akan digelar kembali pada Senin, 2 Nopember yang akan datang. (***Is)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of