Sabtu, 20 Juli 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
399

Formula Kenaikan Upah Buruh Diyakini Gairahkan Investasi Sektor Padat Karya

Ilustrasi.
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Jakarta | Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani merasa optimistis investasi sektor padat karya ke depan akan semakin meningkat seiring dengan dikeluarkannya paket ekonomi jilid IV yang salah satunya adalah pemberlakuan formula kenaikan upah buruh yang berlaku lima tahun.

Menurutnya, keputusan tersebut dapat memberikan kepastian bagi investor dalam menghitung komponen upah buruh di biaya produksi. Dia menambahkan dalam komunikasinya dengan investor baik yang sudah menanamkan modalnya di Indonesia maupun yang baru menyatakan minatnya untuk berinvestasi.

“Dalam berbagai pertemuan one on one, investor khususnya dari sektor padat karya selalu menyatakan concern-nya terhadap ketidakpastian formula kenaikan upah buruh di Indonesia. Hal ini cukup menyulitkan investor dalam memproyeksikan biaya investasi. Dengan kebijakan terbaru yang diumumkan pemerintah tentang pemberlakuan formula upah buruh selama 5 tahun, tentu dapat menghilangkan keraguan untuk memutuskan berinvestasi di Indonesia,”ujar Franky dalam keteranganya di Jakarta, Minggu (18/10/2015).

Franky menambahkan kebijakan pengupahan dalam paket ekonomi jilid IV ini memperkuat paket kebijakan sebelumnya yang juga memberikan kemudahan atau insentif bagi investasi sektor padat karya.

Dia merujuk kepada paket jilid III yang memberikan kemudahan investor padat karya berupa diskon tarif hingga 30% untuk pemakaian listrik pada tengah malam (23.00) hingga pagi hari (08.00), yaitu pada saat beban sistem ketenagalistrikan rendah, serta penundaan pembayaran tagihan rekening listrik hingga 40% dari tagihan listrik 6 atau 10 bulan pertama, dan melunasinya secara berangsur, khusus untuk industri padat karya serta industri berdaya saing lemah.

“Selain investor existing yang sudah beroperasi, kebijakan diskon tarif listrik juga dapat menjadi daya tarik bagi investor padat karya untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Kebijakan terbaru yang dikeluarkan ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing kita dalam menarik investor padat karya, khususnya untuk bersaing dengan Vietnam. Seperti pernah kami sampaikan sebelumnya, pesaing terberat kita di ASEAN untuk menarik investasi padat karya adalah Vietnam,” tambah Franky.

Lebih jauh Franky menjelaskan, minat investasi sektor padat karya di Indonesia masih cukup tinggi. BKPM mencatat pengajuan izin prinsip di sektor padat karya di sepanjang Januari-Juni 2015 naik 19,74% sebesar Rp34,25 triliun dibandingkan semester I-2014 sebesar Rp28,6 triliun. Selain itu, BKPM juga telah mengidentifikasi adanya minat investasi di sektor padat karya sebesar USD0,96 miliar.

Dari sisi laju realisasi, investasi sektor padat karya sepanjang Semester I 2015 belum selevel dengan sektor prioritas BKPM lainnya, terutama infrastruktur serta pariwisata dan kawasan. Menurut data BKPM realisasi investasi sektor padat karya semester I-2015 sebesar Rp28,57 Triliun, turun 20 persen dibandingkan semester I-2014 sebesar Rp35,86 triliun. (ef)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of