Sabtu, 20 Juli 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
496

Pemerintah Ngotot Berlakukan PP Pengupahan, 20 Buruh Ditangkap

Polisi guyur ratusan buruh dengan water cannon, Jum’at (30/10) malam tadi.
Polisi guyur ratusan buruh dengan water cannon, Jum'at (30/10) malam tadi.
Polisi guyur ratusan buruh dengan water cannon, Jum’at (30/10) malam tadi.

Jakarta | Pemerintah melalui Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri secara tegas menyatakan menolak tuntutan buruh, yaitu pencabutan Peraturan Pemerintah (PP) No. 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan, demikian dikatakan saat bertemu dengan perwakilan para buruh yang diterima di Kantor Kesetariatan Negara, Jum’at (30/10) siang tadi.

Menurut Sekretaris Jenderal Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Muhammad Rusdy mengatakan, “Kami tidak menyampaikan banyak hal, tapi hanya satu. Cabut PP No. 78 Tahun 2015”. Lebih lanjut Rusdy menegaskan, jawaban Menaker dianggap tidak memahami persoalan yang terjadi. Inti masalahnya PP No. 78 Tahun 2015 yang menjadi paket kebijakan Jokowi mencederai hak buruh. “Hal tersebut berarti setiap tahunnya, kenaikan upah dibatasi 9 persen – 11 persen,” tandasnya.

Ribuan buruh secara bergelombang selepas sholat Jumat, mulai bergerak menuju Istana Merdeka. Para buruh yang menamakan dirinya Komite Politik Buruh Indonesia (KPBI) tersebut, terdiri dari berbagai organisasi seperti Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), Serikat Pekerja Nasional (SPN), Forum Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Serikat Buruh Transportasi Indonesia (SBTPI), Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI), dan lainnya, tetap bertahan didepan Istana hingga Pukul 19.30 Wib.

Upaya himbauan oleh polisi untuk membubarkan pengunjuk rasa, mengalami kebuntuan. Sehingga ratusan Polisi yang berjaga di depan Istana Merdeka mulai mendorong mundur para buruh. Dari salah satu polisi di lokasi sekitar pukul 19.45 Wib, mengatakan bahwa polisi mulai mendorong para demonstran yang berada di Jalan Medan Merdeka Utara. Anggota kepolisian tersebut dilengkapi dengan pakaian antihuru-hara lengkap dengan tameng dan tiga mobil water canon.

Namun, para pengunjuk rasa yang berjumlah ratusan tersebut masih tidak bergeming dari lokasi aksi. Buruh masih menyampaikan pendapatnya dengan menggunakan pengeras suara. Sedangkan Polisi terus bergerak mendorong buruh, dengan jarak antara polisi dengan para buruh hanya sekitar 100 meter.

Meskipun diguyur air yang ditembakkan dari mobil water cannon, ratusan buruh tak bersedia mundur. Bahkan mereka tetap berorasi dan menyanyikan lagu-lagu pergerakan buruh. “Kita akan tetap di sini sampai PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan dicabut,” kata salah satu moderator dari atas monil komando. Sambil menyanyikan lagu yang bertujuan untuk membakar semangat.

Akhirnya, sekitar pukul 19.50 Wib, polisi mulai menembakkan gas air mata. Massa buruh yang sebelumnya berkerumun di depan Istana Merdeka pun mulai mundur secara perlahan. Namun, barisan polisi mulai melangkah maju dan bergerak secara represif dengan mendorong, memukul dan menangkap peserta aksi.

“Dilakukan upaya penindakan diantaranya penyitaan mobil pengeras suara, kemudian juga dilakukan penangkapan. Ada 20-an yang ditangkap, saya belum tahu pastinya, sementara sedang ditangani Reserse. Nanti kita akan melakukan proses hukum kepada mereka,” ujar Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Tito Karnavian, di depan Istana Negara. (***Ys)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of