Type to search

Buruh Migran

Sudah Sepantasnya Negara Berterima Kasih Pada Buruh Migran

Share
ilustrasi

ilustrasi

Jakarta | Keterpurukan dan krisis ekonomi telah mendorong arus migrasi Tenaga Kerja Indonesia ke luar negeri. Ketika krisis ekonomi berlangsung, perusahaan-perusahaan yang bergantung pada modal asing pun berjatuhan dan terjadi pelarian modal ke luar negeri. Akibatnya terjadi gelombang PHK besar-besaran dan tingkat pengangguran pun kian melambung.

Bertumpuknya pengangguran di dalam negeri, membuat harga buruh migran Indonesia di pasar tenaga kerja menjadi semakin murah. Mereka pada akhirnya hanya menjadi bulan-bulanan kekuasaan modal dan majikan. Upah murah, jam kerja buruk, PHK sewenang-wenang, kekerasan, pelecehan seksual, dan trafficking menjadi isu yang mencuat.

Berbanding kontras dengan apa yang disumbangkan para pahlawan devisa akhir tahun 2015 ini. Ada catatan penting atau pesan khusus perlu disampaikan kepada masyarakat pada pekan promosi atau hajatan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) yang digelar pekan lalu. Hal penting itu adalah sumbangsih tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri selama ini, yakni kiriman uang mereka ke Tanah Air.

Plt. Deputi Kerjasama Luar Negeri dan Promosi (KLNP) BNP2TKI Anjar Prihantoro mengatakan, sektor jasa (TKI) ini pada semester I tahun 2015 telah menghasilkan 4,7 juta dollar AS. Angka itu setara dengan 68 persen dari total Foreign Direct Investment (FDI), walaupun selama ini penempatan TKI belum pernah mendapat insentif sebesar insentif yang diberlakukan terhadap investasi asing.

“Diperkirakan pada Desember 2015 nanti remitansi yang masuk dapat mencapai 9.5 miliar dollar AS. Kalau dikalikan kurs rupiah sebesar Rp 13.000, maka remitansi yang masuk sama dengan Rp 124 triliun,” kata Anjar, Rabu (28/10/2015).

Namun realitas menunjukan, dalam melakukan migrasi tidak selalu Tenaga Kerja Indonesia mendapatkan apa yang mereka harapkan, bahkan dapat dikatakan seringkali terjadi eksploitasi terhadap mereka baik selama masih ada di Indonesia maupun setelah di negara tujuan dan juga setelah sampai kembali di tanah air. Eksploitasi Tenaga Kerja Indonesia bukan merupakan hal yang baru. Kasus-kasus perburuhan (pelanggaran kontrak kerja, upah di bawah standar, upah tidak dibayar), kasus kekerasan fisik, psikis dan seksual, tenaga kerja yang tak berdokumen, dan sebagainya, seperti tak pernah berhenti dialami Tenaga Kerja Indonesia.

Hal ini sangat ironis dengan apa yang mereka sumbangkan kepada negara yang sangat besar. Seharusnya untuk memberikan kesejahteraan bagi TKI, BNP2TKI jangan hanya melakukan koordinasi dengan Kementrian Perdagangan untuk menyusun perjanjian kerjasama terkait promosi TKI di negara-negara lain, tapi sebagai salah satu produk Indonesia di luar negeri, TKI harus benar-benar dilindungi demi terciptanya hak kebutuhan hidup dan hak kemanusiaan mereka. Sebagaimana kita tahu bahwa dalam segi regulasi masih banyak kelemahan.

Berdasarkan pemantauan saat pemulangan terdapat beberapa alasan TKI pulang antara lain, karena habis kontrak, cuti, sakit, putus kontrak dan TKI bermasalah. Pada saat pemulangan tersebut permasalahan sering dialami TKI khususnya TKI perempuan (TKW), meliputi: pungutan liar, penipuan nilai tukar mata uang asing, pemerasan, perampokan, dan tindak kekerasan lainnya.

Menyikapi berbagai permasalahan yang cenderung dialami buruh migran, tentunya memerlukan perhatian dan langkah-langkah kebijakan perlindungan dan penanganan yang strategis oleh Pemerintah. Indonesia harus mempunyai harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi atas potensi, pemerintah harus tanpa pamrih melindungi para buruh migran.

TKI adalah pahlawan devisa untuk Indonesia, menyumbang sangat banyak remitensi untuk negara, engkaulah pahlawan devisa untuk Indonesia, sudah sepantasnya negara berterima kasih pada kalian semua. (***ef)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *