Type to search

Sekitar Kita

Buruh Harus Rubah Taktik Melawan Penetrasi Kapitalisme

Share
ilustrasi

ilustrasi

Jakarta | Buruh harus merubah strategi dan taktiknya dalam melawan penetrasi sistem kapitalisme. Hal ini dikarenakan sistem kapitalisme yang hendak dilawan oleh gerakan kaum buruh semakin canggih. Model produksi yang dijalankan juga semakin rumit.

Demikian dikatakan Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dhakiri dalam kesempatan membuka kongres II Konfederasi Serikat Nasional (KSN) di BBPLN Ciracas, Jakarta (13/11/2015).

Hanif mengatakan, bahwa perjuangan kaum buruh tidak bisa lagi disandarkan pada strategi taktik konvensional seperti demonstrasi dan pemogokan. Ia mengusulkan agar gerakan buruh membangun kemitraan strategis (strategic partnership) dengan semua stakeholder hubungan industrial dalam rangka memajukan tuntutan perjuangan.

“Ruang demokrasi yang semakin terbuka di Republik ini jangan dilepas dan dibiarkan. Manfaatkan ruang demokrasi yang ada untuk membangun kemitraan strategis (strategic partnership) dengan semua stakeholder baik pemerintah maupun pengusaha. Jadikan mereka partner in progress untuk memajukan tuntutan perjuangan buruh selama ini,” jelasnya.

Menurut Hanif, ruang demokrasi Indonesia adalah bagian dari investasi gerakan buruh masa sebelumnya yang harus diapresiasi dengan cara memanfaatkannya. Pada saat konstruksi sistem kapitalisme dan konstruksi negara berubah, maka gerakan buruh juga perlu berubah agar bisa merespon tuntutan perubahan.

Jika tidak, gerakan buruh hanya akan terjebak dalam demagogi sosial yang kurang bermakna bagi peningkatan kualitas hidup buruh itu sendiri. “Melawan sistem kapitalisme itu tidak bisa dengan modal jargon belaka. Harus ada reorientasi strategi dan taktik gerakan yang lebih canggih, setidaknya mengiringi sistem kapitalisme,” katanya.

Menurut Hanif, sistem kapitalisme dulu dan sekarang sangatlah berbeda. Dulu kapitalisme mengembangkan sistem produksi untuk memenuhi kebutuhan manusia seperti pangan, sandang, papan, dan lain-lain. Sekarang kapitalisme justru menciptakan kebutuhan baru yang juga diamini oleh para buruh.

Dulu, kita bisa hidup tanpa HP. Tetapi sekarang orang merasa tidak bisa hidup jika tidak pakai HP. Pulsa-pun sekarang telah dianggap sebagai kebutuhan dan masuk dalam komponen Kebutuhan Hidup Layak (KHL), imbuh Hanif.

“Gimana mau melawan kalau buruh sendiri terus menjadi konsumen dari kebutuhan baru yang diproduksi kapitalisme?” tanyanya kepada peserta kongres yang datang dari berbagai daerah.

Hanif pun menambahkan bahwa, “Pemerintah dan pengusaha bukanlah musuh kaum buruh. Musuh buruh itu industri yang lemah, pengangguran, dan rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia. Ini yang harus diperangi sama-sama,” pungkasnya. (**ef)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *