Jumat, 13 Desember 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
699

Melambungnya Harga Tukar, 2.744 Buruh di Bekasi Kena PHK

ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

Bekasi | Anjloknya harga nilai tukar rupiah terhadap dollar AS membawa dampak buruk pada sektor tenaga kerja dalam negeri. Pelemahan rupiah menyebabkan pukulan luar biasa bagi industri dalam negeri. Bahkan untuk mendorong ekspor pun sulit, padahal pelemahan rupiah bisa menjadi kesempatan baik untuk ekspansi ekspor. Memburuknya perekonomian Indonesia mendorong pemerintah untuk lebih optimal dan efisien dalam mewaspadai dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, karena bisa berimbas pada ancaman PHK di perusahaan-perusahaan.

Jelang akhir tahun 2015, sejumlah perusahaan di Kawasan Industri Bekasi memutuskan untuk menutup pabriknya dan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara massal. Tercatat ribuan orang yang bekerja di Kawasan Industri Kabupaten Bekasi terkena dampaknya mulai awal tahun 2015.

PHK massal itu terjadi hampir di beberapa perusahaan di 10 kawasan industri besar maupun kecil di Kabupaten Bekasi. Diantaranya kawasan Lippo Cikarang, Jababeka, Hyundai, Ejip, Delta Silicon, MM 2100, Kitic, GIIC, Deltamas Cikarang Pusat, dan kawasan Gobel.

“Selama kurun waktu 10 bulan tercatat sebanyak 2.744 orang yang kena PHK. Data itu sebagaimana perusahaan maupun buruh yang melaporkannya kepada kami,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Bekasi Effendi, Jum’at (6/11/2015).

Menurut Effendy, buruh/pekerja yang kena PHK di Kabupaten Bekasi diprediksi melebihi angka tersebut, karena banyak perusahaan yang tidak melaporkannya kepada pemerintah daerah ketika melakukan PHK.

Effendy menjelaskan, dari jumlah 2.744 orang yang terkena imbas PHK itu berasal dari 15 perusahaan. Penyebabnya 15 perusahaan itu terpaksa melakukan PHK massal lantaran berbagai faktor.

Diantaranya, perusahaan itu dinyataka pailit karena merugi lantaran melesunya ekonomi dari dampak melambungnya harga tukar dollar terhadap rupiah beberapa waktu lalu, sehingga produksi perusahaan pun ikut menurun. “karena bahan dasar industri memang banyak membeli dollar AS, “tegasnya.

Selain itu, sebelumnya secara nasional per juli 2015 tercatat di Kementrian Tenaga Kerja ada 11.350 pekerja yang harus menyandang status baru sebagai pengangguran (PHK). Data tersebut diperoleh dari lima provinsi yang melapor, meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, dan Kalimantan Timur. (**ef)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of