Jumat, 15 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
732

Devisa Buruh Migran Tertinggi Kedua Setelah Pendapatan Minyak dan Gas

Ilustrasi.
ilustrasi
ilustrasi

Jakarta | Buruh migran sebagai pahlawan devisa belum kunjung dilindungi pemerintah. Pasalnya akhir-akhir ini pemerintah belum hadir dalam menangani persoalan buruh migran mulai dari hulu sampai hilir, padahal negara sangat bergantung pada jumlah devisa yang dikirimkan dari jerih payah mereka” ungkap Rudi Wahyono, Direktur Eksekutif Center for Information and Development Studies (CIDES) dalam acara Diskusi Publik “Potret hak Anak Buruh Migran Yang Ditinggalkan”, di Kampus UNJ, Jakarta, Rabu (23/12/2015).

Devisa dari buruh migran adalah tertinggi kedua setelah pendapatan dari minyak dan gas. Pemerintah sangat bergantung pada mereka, tapi ironisnya pemerintah mengabaikan urusan perlindungan dan tanggung jawab pada keluarga buruh migran yang ditinggalkan di tanah air.

Sampai saat ini buruh migran masih tergolong kelompok masyarakat yang rapuh dan rentan mengalami penderitaan berlapis (vulnerable group) dari berbagai aspek, seperti pendidikan dan kesehatan. Apalagi buruh perempuan yang rentan mengalami eksploitasi, baik saat pra hingga di negara penempatan, jelas Rudi.

Sebagai contoh, jika seorang perempuan berangkat menjadi buruh migran, maka dia akan meninggalkan anak dan suaminya. Secara psikis, seorang suami menjadi tidak terpenuhi kebutuhan biologisnya dan anaknya tidak mendapatkan kasih sayang dari ibunya.

Alumnus Master Ekonomi dari Cheng Kung University Taiwan ini pun mengharapkan, pemerintah harus lebih serius menghadirkan dan menunaikan Nawacita bagi buruh migran. Dimana salah satu poin Nawacita adalah menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara.

Pemerintah harus sigap memberikan perlindungan bagi buruh migran baik dari segi legitimasi hukum ataupun perlindungan secara teknis di lapangan.

“Jika saat ini ada sekitar 4 juta orang buruh migran, dan 3 juta di antaranya adalah perempuan dengan asumsi masing-masing mereka meninggalkan 2 orang anak, maka ada 6 juta anak-anak Indonesia yang hidupnya jauh dari kasih sayang seorang Ibu. Kalau pun mereka sekolah di negara penempatan, seperti di Malaysia, mereka hanya mendapatkan sekolah informal. Ini peringatan serius bagi masa depan negara!”, tutur Rudi Wahyono. (**ef)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of