Kamis, 14 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
1.090

Mengapa Harus Ada MEA Bila Berdampak Menyingkirkan Buruh Lokal?

ilustrasi (foto: 7wolu.blogspot.com)
ilustrasi (foto: 7wolu.blogspot.com)
ilustrasi
(foto: 7wolu.blogspot.com)

Gerbang Ekonomi ASEAN membuka lebih lebar tenaga kerja asing dan kaum pemodal bersaing di Indonesia. Dengan dibukanya pintu gerbang ini membuat Forum Asosiasi Kelompok Perusahaan dan Pengusaha antusias. Mereka menegaskan bahwa buruh Indonesia akan semakin tersingkir apabila perusahaan memilih menggunakan buruh asing seperti buruh asal negeri China yang upahnya lebih murah dibandingkan buruh lokal.

Hal ini menegaskan pula bahwa kemunculan PP 78/2015 tidak menyelesaikan masalah, tapi malah memperumit perburuhan di Indonesia, ditambah kehadiran MEA yang kurang memihak pada kesejahteraan buruh di Indonesia.

Pil pahit harus dirasakan oleh buruh lokal karena penguasaha (para kaum kapitalis) terlihat sangat antusias menyambut kehadiran MEA ini. Seperti yang dikatakan Edy Yosef dari Forum Asosiasi Kelompok Perusahaan dan Pengusaha, yang memayungi sebanyak 32 perusahaan di Jakarta Timur, Minggu lalu, menegaskan “Kesiapan buruh asal China dengan gaji 2 juta per bulan, dan kesiapan mereka tidur di mes perusahaan, sudah banyak perusahaan yang siap menampung kedatangan mereka. Hal ini kami lakukan karena kekecewaan kami sebagai pengusaha atas tingginya upah minimum di sejumlah daerah yang kenaikannya sangat tinggi apalagi di sektor padat karya yang notabennya karyawan banyak. Seharusnya pemerintah sebagai regulator bijaksana dalam memikirkan dan menyikapi kelangsungan perusahaan khususnya padat karya, seperti pabrik rokok, sepatu, yang rata-rata karyawannya banyak. Masa harus digaji sebesar Rp 3 juta?“, ujarnya.

PP 78/2015 sudah sangat jelas tidak bisa menjawab persoalan yang dihadapi oleh kalangan pengusaha ataupun buruh di Indonesia. Pemerintah sudah jauh mengeluarkan kebijakan yang tidak sesuai Nawacita yang dijanjikan. Mempekerjakan buruh asal asing menggantikan buruh dari negeri sendiri adalah pilihan pengusaha karena pemerintah tidak bisa menjawab persoalan.

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) secara singkatnya bisa diartikan sebagai bentuk integrasi ekonomi ASEAN yang artinya semua negara-negara yang berada dikawasan Asia Tenggara (ASEAN) menerapkan sistem perdagangan bebas. Indonesia dan seluruh negara-negara ASEAN lainnya (9 negara lainnya) telah menyepakati perjanjian MEA tersebut atau yang dalam bahasa Inggrisnya adalah ASEAN Economy Community atau AEC.

Kurang lebih dua dekade yang lalu tepatnya Desember 1997 ketika KTT ASEAN yang diselenggarakan di Kota Kuala Lumpur, Malaysia, disepakati adanya ASEAN Vision 2020 yang intinya menitikberatkan pada pembentukan kawasan ASEAN yang stabil, makmur, dan kompetitif dengan pertumbuhan ekomoni yang adil dan merata serta dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial.

Masyarakat Ekonomi ASEAN sesungguhnya adalah hasil jiplakan dari Masyarakat Ekonomi Eropa yang telah lahir lebih dari 5 dekade yang lalu. Ini adalah dalam rangka membangun tatanan baru dunia global yang dijanjikan perekonomian dunia akan lebih baik.

Namun pertanyaannya, apakah dengan adanya MEA negeri ini akan mampu berdikari secara ekonomi? Apakah kesejahteraan para buruh dan rakyat miskin terjamin? apakah kebutuhan pokok di negeri ini tidak akan mengalami inflasi?

Inilah kutipan Jhon Pilger, peneliti perburuhan di Indonesia pasca keruntuhan Soeharto:

Keuntungan dunia baru kini, pemimpin Industri besar katanya memiliki visi dan misi yang mulia, tapi sesungguhnya teramat kejam. Mereka menjanjikan dunia dimana setiap orang menjadi kaya, pintar dan muda. Namun, buruh hanya mampu banting tulang menafkahi anak istrinya walaupun harus hidup di pinggiran, menuruti kehendak penguasa yang menjanjikannya hidup makmur. (**eff)

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
ujang rohman Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
ujang rohman
Guest
ujang rohman

saya sangat tertarik mengenai aturan MEA, bisa lebih banyak bacaan mengenai ini?
karena setahu saya China tidak termasuk dalam MEA, dan bukannya ada aturan kalau TKA itu harus bayar US$100 / bulan.
dengan kata lain sama saja bukan?
gaji yang dikeluarkan untuk tenaga kerja asing sekitar 3 juta / bulan?
jadi kenapa kita harus takut dengan TKA?