Rabu, 17 Juli 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
662

Perjuangan Seorang Ibu Menjadi Buruh Angkat Beras Di Pergudangan Bulog

(foto: bayugmurti.wordpress.com)
(foto: bayugmurti.wordpress.com)
(foto: bayugmurti.wordpress.com)

Makasar | Hari Ibu yang jatuh pada tanggal 22 Desember harus menjadi momentum pemerintah untuk berbenah memperhatikan kaum perempuan. Makna filosofis ibu begitu besar peranannya dalam kehidupan umat manusia. Demi menghidupi anak dan keluarganya seorang ibu bahkan rela mati-matian dalam hidupnya untuk memberikan kebahagiaan bagi anak dan keluarganya.

Seperti yang dialami oleh Saniati dan Daeng Kanang, selain sebagai ibu rumah tangga mereka juga bekerja sebagai buruh angkat beras di kawasan pergudangan bulog, di Jalan Urip Sumoharjo, Makasar. Pekerjaan itu mereka lakukan dengan harapan bisa melihat sanak keluarganya bahagia. Melihat anak-anak mereka terus bersekolah menjadi penyemangat keduanya untuk terus mencari upah meski bekerja layaknya seorang laki-laki.

Saniati mengatakan, dalam melakukan pekerjaan sebagai buruh angkat beras dia tidak lagi merasa berat. Hal itu karena ia bekerja sudah delapan tahun di pergudangan bulog. “Upah yang diterima dari bekerja seperti inipun sudah cukup,” ujarnya.

Di sisi lain, ia pun menaruh harapan pada pemerintah agar lebih memperhatikan masyarakat kecil seperti dirinya, karena dibalik perjuangannya sebagai buruh ia pun mendambakan anak-anaknya terus bersekolah mengenyam pendidikan, sebagaimana pendidikan adalah tugas seorang ibu serta telah diwajibkan oleh negara.

Sementara itu di tempat yang sama, Daeng Kanang (42 tahun) juga menjadi tulang punggung keluarga. Baginya upah yang didapat diutamakan pada sekolah anak.

Dia mengaku suaminya hanya tinggal di rumah setelah tidak lagi bekerja sebagai ojek becak motor. Hal itu yang memaksa dirinya mencari upah menggantikan sang suami.

Kedua ibu rumah tangga ini bekerja dari pukul 09.00 WITA hingga pukul 16.00 WITA. Baginya mengisi karung dan mengangkat beras hingga bersusun-susun dijadikan sahabat untuk terus bekerja keras.

Inilah salah satu dilematis kemanusiaan yang harus menjadi perhatian pemerintah, karena dalam hal kesetaraan gender atau adanya tuntutan emansipasi wanita oleh sekelompok pihak seringkali “kebablasan” atau melewati batas-batas kodrati perempuan. Sebagai tenaga kerja yang harus dilindungi hak-haknya, perempuan juga berperan sebagai ibu rumah tangga yang harus dilindungi fungsi reproduksinya. (**ef)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of