Senin, 26 Agustus 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
483

Anjloknya Harga Minyak Dunia, Buruh Migas Terancam PHK

foto: goriau.com
foto: goriau.com
foto: goriau.com

Jakarta | Anjloknya harga minyak dunia disebabkan karena berbagai hal, diantaranya karena kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menjaga harga minyak rendah akibat dari politik luar negeri Amerika di Timur Tengah, yang menyebabkan produksi minyak berlebihan. Begitulah ungkapan Presiden Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI), Mudhofir Khamid, Jum’at (29/1/2016).

KSBSI mengungkapkan anjloknya harga minyak dunia hingga di kisaran USD30/barel, level terendah sejak 2004 berdampak besar terhadap perusahaan minyak dan gas (migas). Hal ini mengakibatkan perusahaan-perusahaan minyak di dunia mengalami kerugian dan terancam melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Di Indonesia diperkirakan sebanyak 300 ribu buruh migas terkena PHK.

Ia mengatakan, meskipun saat ini Indonesia tidak lagi menggantungkan pendapatan pada sektor migas sebagai pendapatan utama, namun anjloknya harga minyak dunia tetap memberikan pengaruh terhadap industri migas nasional.

Berdasarkan hasil survei yang diterbitkan DNV GL, salah satu perusahaan konsultan migas, turunnya harga minyak dunia secara drastis membuat pendapatan dari perusahaan minyak merosot. Hal ini karena perusahaan minyak akan mengambil kebijakan pemangkasan biaya produksi yang berdampak pada timbulnya PHK, pemangkasan biaya investasi, dan pemangkasan biaya distribusi.

“Selain itu, akibat perlambatan perekonomian di China yang membuat minyak mengalami over suplai dan harga minyak semakin tertekan mengingat negara tersebut merupakan salah satu konsumen minyak terbesar dunia”, ujarnya.

Berdasarkan kondisi tersebut, diperkirakan ada sekitar 300 ribu buruh yang bekerja pada industri migas di Indonesia, yaitu pegawai tetap, pegawai kontrak dan pegawai pada perusahaan subkontraktor, terancam mengalami PHK akibat merosotnya harga minyak dunia.

Dalam laporan terbaru ILO berjudul “World Employment And Social Outlook Report For 2016”, disebutkan bahwa pada 2016 diperkirakan angka pengangguran global akan bertambah 2,3 juta orang dan pada 2017 jumlah pengangguran akan bertambah 1,1 juta.

Sehingga, total pengangguran secara global pada 2017 mendatang, jika ditambah dengan data pengangguran saat ini diperkirakan akan mencapai lebih dari 200 juta orang.

Perlambatan ekonomi global pada tahun lalu, khususnya di kawasan Asia, Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah. Negara berkembang dan negara produsen minyak berpotensi menderita instabilitas sosial yang akan mengakibatkan pengangguran global.

Sementara itu, Pemerintah dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tidak bisa merespons secara instan keputusan sejumlah perusahaan migas yang akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Kondisi ini terjadi menyusul harga minyak dunia yang terus merosot.

Menteri ESDM Sudirman Said mengatakan, pemerintah tidak bisa memberikan respon secara instan karena jika dikeluarkan kebijakan prosesnya akan panjang. “Namun, kita paham situasi sulit,” katanya di Jakarta, Rabu (27/1/2016).

Dengan situasi harga minyak dunia yang sangat rendah banyak perusahaan yang berpikir ulang untuk meneruskan kegiatan operasionalnya. “Kita akan antisipasi namun juga belum ada keputusan untuk berikan insentif. Dan bayangan split seperti apa sedang disiapkan,” terangnya.

Hal seperti ini adalah situasi yang sangat sulit bagi pemerintah, karena begitu lemahnya kebijakan apalagi harus menghadapi persaingan bebas. Selain itu, rendahnya pengelolaan Sumber Daya Alam, dan penataan ekonomi secara tidak sehat yang menyebabkan kesejahteraan ekonomi rakyat menengah kebawah semakin menurun. (**ef)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of