Senin, 16 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
441

Pemerintah Ungkap Cerita Manis Dibalik PHK Perusahaan Elektronik

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta, Buruh-online.com | Pemerintah selama ini terus menuai janji mengenai langkah panjang untuk mengurangi jumlah pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. Seperti yang akhir-akhir ini dikatakan oleh Menko Perekonomian, Darmin Nasution, bahwa seiring pemerintah meningkatkan investasi ke Indonesia akan tercipta banyak lapangan kerja. Hal ini menjadi basi, karena persaingan global yang menggaet Indonesia apalagi dengan adanya MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) tidak serta merta pertumbuhan ekonomi menjamin kesejahteraan rakyatnya.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2015 sebesar 4,79 persen. Realisasi ini turun dibanding pencapaian pertumbuhan ekonomi di 2014 yang sebesar 5,02 persen. Konsekuensinya, berdampak kepada angka kemiskinan dan pengangguran. 

Sulitnya persaingan yang menggaet pasar ini‎, bertambah pelik ketika setiap tahun pertumbuhan ekonomi dunia mengalami perlambatan, terutama di negara-negara berkembang yang menjadi pasar utama elektronik.

Seperti yang terjadi beberapa hari belakangan ini, masyarakat dihadapkan dengan banyaknya cerita soal Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) oleh beberapa industri di Indonesia. Salah satunya perusahaan elektronik ternama Panasonic dan Toshiba.

Darmin Nasution menyebutkan apa yang dialami dua perusahaan elektronik tersebut merupakan bentuk efisiensi yang harus dilakukan demi menghadapi persaingan industri yang semakin ketat.

“‎Kan ini masa dimana harga BBM turun, kemudian persaingan ekspor menurun tajam, karena negara besar mengalami kesulitan seperti Jepang‎,” kata Darmin di Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (5/2/2016).

Demikian pula apa yang dikatakan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Suryamin, Jum’at kemarin. Ia mengatakan, fenomena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat penutupan perusahaan atau pabrik bukan berarti tak ada peluang kerja bagi masyarakat yang terkena kebijakan rasionalisasi perusahaan tersebut. “Karena ada perusahaan lain yang ekspansi atau berinvestasi, sehingga bisa mengambil peran itu (menciptakan lapangan kerja). Jadi masyarakat yang kena PHK bisa beralih ke situ,” ujarnya.

Perkataan seperti itu sangat ironis, karena RI saat ini hanya menjadi korban persaingan bisnis negara maju seperti Jepang dan China. Bentuk pelemahan industri terutama di bidang elektronik sudah terlihat sejak tiga tahun belakangan. Tingkat ekspor barang elektronik Jepang mengalami penurunan.

Saat ini, Jepang telah menerapkan tingkat suku bunga acuan yang ditarik hingga ke minus. Hal ini dipaparkan Darmin sebagai cara untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jepang itu sendiri.

‎”Kemudian Cina juga pertumbuhannya melambat, jadi persaingan diantara mereka sendiri, oleh karena itu tidak usah heran kalau kemudian ada yang rada kalah, rada menang,” terang Darmin

Ketika Pemerintah membuka persaingan bebas, dan membiarkan rakyat masuk dan bertarung kreatifitas dalam persaingan ini, sesungguhnya kestabilan ekonomi negara ini tinggal hanya menunggu bom waktu. Indonesia lupa, bahwa Undang-Undang Dasar 1945 adalah melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia bukan menggiring masyarakat pada persaingan kapitalis dunia yang akan menjerumuskan pada keterlambatan dan kehancuran ekonomi. Ekspor bukan satu-satunya solusi kongkret untuk pertumbuhan ekonomi, melainkan pemanfaatan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia-lah yang menjadi dasar keberlangsungan sebuah negara untuk menjamin kesejahteraan rakyatnya. (*ef)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of