Selasa, 12 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
388

Iuran BPJS Naik Ditengah Minimnya Ketersediaan Obat dan Ruang Perawatan

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Riau | Rencana Pemerintah menaikkan besaran iuran Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan per-1 April 2016 nanti, terus menuai kritik dari masyarakat dan pimpinan serikat pekerja. Pemerintah melalui Peraturan Presiden No. 19 Tahun 2016, menaikkan jumlah iuran antara sebesar 20% – 35%.

Untuk ruang perawatan kelas III dinaikkan dari Rp.5.500,- perbulan menjadi Rp.30.000,- perbulan. Sedangkan ruang perawatan kelas II dinaikkan dari yang sebelumnya Rp.42.500,- perbulan menjadi Rp.51.000,- perbulan, dan ruang perawatan kelas I dinaikkan dari Rp.59.500,- perbulan menjadi Rp.80.000,- perbulan.

Kenaikkan tersebut, dinilai berbagai kalangan berbanding terbalik dengan pelayanan yang dialami oleh pasien BPJS di rumah sakit. Mereka mengeluhkan sulitnya mendapatkan ruang perawatan, ketika dirujuk ke rumah sakit oleh fasilitas kesehatan tingkat I yang berada di kelurahan setempat.

Selain ruang perawatan, obat yang diberikan oleh dokter BPJS juga terbatas, bahkan tidak jarang obat yang menjadi rujukan tidak tersedia di klinik rumah sakit. Kondisi tersebut, pada akhirnya, memaksa pasien BPJS untuk membeli obat yang bukan merupakan bagian dari daftar obat yang diperuntukkan untuk pasien BPJS.

Ketersediaan obat yang cukup, sangat dipengaruhi dengan jumlah anggaran yang diberikan untuk Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Menurut Sekretaris RSUD Kuantan Singigi, Riau, Armen Suheri, mengatakan usulan besaran anggaran yang diajukan pihak RSUD mencapai Rp.7 miliar setiap tahun, tetapi ia mengaku hanya direalisasikan berkisar Rp.1,5 miliar. “Hal ini sangat tidak memungkinkan untuk membeli obat sebagai kebutuhan satu tahun bagi pasien BPJS yang setiap tahun mengalami peningkatan,” tandas Armen. (HZ)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of