Senin, 23 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
665

Petitum Tuntutan Bersifat Umum dan Tidak Konkrit, Gugatan Tidak Diterima

Ilustrasi. (foto: poskotanews.com)
Ilustrasi. (foto: poskotanews.com)

Bandung | Meski PT. Sepatu Mas Idaman tidak mengajukan eksepsi atas gugatan yang didaftarkan oleh Rendy Febry Gerung ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Bandung, namun Majelis Hakim memutuskan untuk terlebih dahulu memeriksa syarat formil atas gugatan yang diregister dengan No. 234/Pdt.Sus-PHI/2015/PN.Bdg tersebut.

Majelis yang diketuai oleh Hakim Pranoto, mempersoalkan rumusan petitum Rendy. Menurutnya, petitum angka 5 (lima) yang meminta kepada Pengadilan untuk menyatakan pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh perusahaan yang berlokasi di Jl. Sukaraja, Desa Pasir Laja, Bogor itu, telah melanggar Putusan Mahkamah Konstitusi (MK), Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, serta Pasal 156 Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, adalah tidak konkrit dan bersifat umum.

Dengan tidak menyebutkan Putusan MK nomor berapa, dan Surat Edaran pada angka berapa, serta ayat berapa dalam Pasal 156 UU Ketenagakerjaan, yang dilanggar perusahaan, dinilai oleh PHI Bandung sebagai rumusan petitum yang tidak jelas dan menjadi kabur. “Menimbang, bahwa oleh karena rumusan atau formulasi petitum angka 5 gugatan Penggugat bersifat umum, tidak kongkrit dan tidak tertentu maka gugatan Penggugat menjadi kabur, dan tidak jelas (obscuur libel), karena tidak jelas ketentuan apa yang dilanggar Tergugat,” tandas Hakim Pranoto, Senin (21/3) lalu.

Terhadap petitum yang tidak terpenuhinya syarat formil suatu gugatan tersebut, PHI Bandung menganggap gugatan Rendy yang menuntut agar perusahaan membayar uang pesangon sebesar Rp.97,9 juta tidak memenuhi syarat formil, dan atas materi dalam pokok perkara tidak dapat lagi diperiksa serta haruslah dinyatakan tidak dapat diterima (niet onvankelijke verklaard). (YS)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of