Minggu, 15 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
745

Gunakan ‘Cq’, Gugatan Guru Tidak Dapat Diterima

Ilustrasi. (Gambar: haluannews.com)
Ilustrasi. (Gambar: haluannews.com)
Ilustrasi. (Gambar: haluannews.com)

Surabaya | Mengabdi sejak 2009, Andi Roestiono terhitung sejak Desember 2014 tidak lagi diberikan upah oleh Sekolah Tinggi Ilmu dan Sastra Surabaya (STIBA SATYA WIDYA), tempat ia mengajar. Menurut Andi dalam surat gugatan tertanggal 8 Januari 2016, pihak sekolah sudah tidak mempunyai uang untuk memberikan gaji.

Terlepas dari pokok perselisihan yang dipersoalkan Andi, pihak sekolah justru mempermasalahkan surat gugatan yang didaftar dengan No. 7/G/2016/PHI.Sby itu. Dalam surat gugatannya, Andi menggugat Yayasan Satya Widya Surabaya cq. STIBA SATYA WIDYA. Pihak sekolah menganggap gugatan yang diajukan Andi, salah alamat dan harus dinyatakan tidak dapat diterima.

Terhadap dalil gugatan dan jawaban kedua belah pihak, Majelis Hakim Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Surabaya, Hakim Jihad Arkanuddin, menyebutkan bahwa istilah ‘cq’ dalam terjemahan baku adalah berarti ‘dalam hal ini’. “Penulisan pihak yang demikian mengandung maksud bahwa Penggugat mengajukan gugatan kepada Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra (STIBA) Satya Widya,” ujar Hakim Jihad, Senin (4/4/2016) lalu.

Lebih lanjut ia menyatakan, bahwa kedudukan pihak Yayasan yang beralamat di Jl. Bendul Merisi Utara, VIII/23, Surabaya, adalah sebagai pihak pemilik Sekolah STIBA Satya Widya, sedangkan kedudukan sekolah adalah sebagai pengelola operasional dari kegiatan usaha pendidikan milik yayasan. Atas hal tersebut, Majelis Hakim berpendapat, seharusnya gugatan yang diajukan Andi tidak di-cq-kan kepada sekolah.

“Menimbang, bahwa oleh karena dalam perkara ini, yang ditarik sebagai Tergugat adalah Yayasan Satya Widya Surabaya Cq Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa dan Sastra (STIBA Satya Widya) Surabaya, maka gugatan dalam perkara ini dapat dikategorikan salah alamat (error in persona),” tegas Hakim Jihad. Oleh karenanya, PHI Surabaya pada amar putusannya, menyatakan gugatan Andi berupa uang kompensasi pesangon sebesar Rp. 36,8 juta, tidak dapat diterima (Niet Onvankelijke verklaard). (Yul)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of