Selasa, 19 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
565

Meski Ditolak PHI, Buruh Mulai Gugat Perhitungan Pesangon Hingga Pensiun

Ilustrasi. (gambar: merdeka.com)
Ilustrasi. (gambar: merdeka.com)

Bandung | Tak terima digugat pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh PT. Handsome, Esti Setyorini mengajukan gugatan balik (rekonvensi). Dalam tuntutannya, Esti menuntut perusahaan yang berlokasi di Wanakerta, Subang itu sebesar Rp. 494 juta, atau setara dengan lebih dari 200 bulan upah.

Ia beralasan, statusnya sebagai pekerja tetap terikat hingga usianya pensiun. Sehingga, dengan usianya kini yang baru 38 tahun, masih mempunyai masa waktu kerja selama 17 tahun yang akan datang hingga pensiun pada umur 55 tahun. Sebab, menurut Esti, dirinya diputuskan hubungan kerjanya oleh perusahaan, bukan karena meninggal dunia, atau bukan karena berakhir kontrak kerja, bukan melanggar peraturan perusahaan, dan juga belum ada putusan pengadilan.

Terhadap gugatan balik Esti, Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Bandung menilai, perusahaan mempunyai alasan yang cukup untuk memutuskan hubungan kerja dengan Esti, karena telah melakukan pelanggaran tata tertib setelah mendapatkan Surat Peringatan (SP) ketiga. Meskipun, lanjut Hakim Asep Maulana, Esti baru diberikan peringatan lisan setelah diberikan SP tiga.

“Dalam perkara a quo terbukti, terjadi perselisihan hubungan industrial yang mengakibatkan Penggugat mengajukan perselisihan pemutusan hubungan kerja terhadap Tergugat, dengan didasarkan adanya pelanggaran yang dilakukan oleh Tergugat, sehingga hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan oleh Penggugat rekonvensi menuntut ganti rugi sampai batas berakhirnya perjanjian kerja,” tandas Hakim Asep, Rabu (30/3/2016).

 Atas pertimbangan tersebut, PHI Bandung dalam amar putusan No. 23/Pdt.Sus-PHI/2016/PN.Bdg, menyatakan putus hubungan kerja hingga Maret 2016, dan hanya menghukum perusahaan untuk membayar kepada Esti uang pesangon sebesar Rp. 27,9 juta. (Yul)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of