Senin, 18 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
1.155

Absensi Finger Print Dihapus, Pengusaha Berdalih Pekerja Mangkir

Ilustrasi. (foto: antaranews.com)
Ilustrasi. (foto: antaranews.com)
Ilustrasi. (foto: antaranews.com)

Bengkulu | Sejak 26 Oktober 2015 sore saat pulang kantor, Andi Wibowo tak lagi dapat melakukan absensi melalui mesin finger print (sidik jari), lantaran namanya telah dihilangkan dari sistem absensi. Mendapatkan kejadian tersebut, Andi berusaha meminta klarifikasi dari beberapa bagian terkait, yang akhirnya meminta Andi untuk membuat lamaran baru sebagai syarat pengaktifan kembali mesin absensi dirinya.

Andi yang bekerja sebagai marketing, tak dapat menerima syarat yang ditawarkan oleh PT. Tunas Mobilindo Perkasa itu. Ia merasa dirinya telah lama bekerja dengan perusahaan hingga lima tahun lamanya, sehingga tidak mempunyai keharusan untuk membuat lamaran kerja baru. Menurutnya, tindakan perusahaan merupakan bagian dari keinginan untuk memutuskan hubungan kerja dirinya secara tidak prosedural.

Melalui surat gugatan yang ia daftarkan di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Bengkulu pada 13 April 2016 lalu, dengan nomor register 6/Pdt.Sus-PHI/2016/PN.Bgl, akhirnya ia mendapatkan keadilan. Majelis Hakim menganggap tindakan perusahaan yang berkantor cabang di Jl. Pangeran Natadirja, Gading Cempaka, Kota Bengkulu itu, sebagai tindakan yang tidak mempunyai landasan dan pijakan hukum.

Majelis yang beranggotakan Hakim Diah Tri Lestari, Dono Rahardjo, Christine Maria Setyawati, sepakat dengan dalil gugatan Andi. “Menimbang, bahwa terbukti Tergugat telah dinyatakan melakukan pemutusan hubungan kerja dengan cara menghilangkan data dan mematikan mesin absensi, dan Penggugat harus mengajukan lamaran baru,” tutur Hakim Diah Tri Lestari, Selasa (28/6/2016) lalu saat membacakan pertimbangan hukum.

Terhadap pertimbangan hukum tersebut, dalih perusahaan yang menyatakan Andi harus dikualifikasikan mangkir dan berakibat pada pengakhiran hubungan kerja mengundurkan diri, adalah tidak beralasan. “Mengabulkan gugatan Penggugat Konvensi untuk sebagian. Menyatakan hubungan kerja antara Penggugat Konvensi dan Tergugat berakhir terhitung sejak tanggal 30 November 2015 dengan tanpa kesalahan dari Penggugat,” tegas Hakim Diah seraya menyatakan pula hak Andi atas uang pesangon sebesar Rp.28,5 juta. (HAF)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of