Rabu, 18 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
1.430

Panggilan Kerja Melalui SMS, PHI Anggap Sebagai Panggilan Patut

Ilustrasi. (gambar: www.aniwebindia.com)
Ilustrasi. (gambar: www.aniwebindia.com)
Ilustrasi. (gambar: www.aniwebindia.com)

Medan | Tindakan PT. Gold Coin Indonesia yang melakukan pemanggilan untuk bekerja kembali melalui pesan singkat atau SMS (short message service) handphone, karena salah satu pekerjanya telah tidak masuk bekerja setelah melaksanakan cuti selama lebih dari 5 (lima) hari berturut-turut, dibenarkan oleh Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Medan. Demikian dasar pertimbangan yang menjadi alasan pengakhiran hubungan kerja antara perusahaan yang beralamat di Kawasan Industri Medan II, Sumatera Utara dengan Samuel Bodamer.

“Menimbang, bahwa Tergugat mengatakan telah menghubungi dan memanggil Penggugat melalui handphone, juga pemanggilan dilakukan melalui SMS sebanyak 2 (dua) kali, namun Penggugat tidak pernah membalas atau menyahutnya ataupun melakukan komunikasi, dan pihak Pekerja mengakui mendapatkan telephone dari pihak management, tetapi karena permintaan pekerja belum dapat dikabulkan maka pekerja tidak datang ke perusahaan,” ujar Hakim Mahyuti, Kamis (14/4/2016).

Menurut Majelis Hakim PHI, makna telah dipanggil secara patut yang terkandung dalam ketentuan Pasal 168 ayat (1) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003, telah terpenuhi dan berdasarkan hukum. Sehingga, tindakan PHK dengan alasan mengundurkan diri yang dilakukan oleh perusahaan, dinilai PHI telah tepat dan Samuel hanya berhak mendapatkan uang pisah sebesar 8 (delapan) bulan gaji. “Menghukum Tergugat untuk membayar uang Pisah Penggugat sebesar Rp. 24,8 juta,” ujar Hakim Mahyuti membacakan amar Putusan No. 9/Pdt.Sus-PHI/2016/PN.Mdn tersebut.

Menanggapi dasar pertimbangan PHI Medan tersebut, menurut pemerhati hukum ketenagakerjaan, Muhammad Hafidz mengatakan, pemanggilan bekerja akibat dari pekerja yang tidak masuk bekerja seperti biasa adalah melalui panggilan secara patut dan tertulis. “Jika yang dijadikan dasar adalah Pasal 168 ayat (1), maka secara tegas ketentuan itu menyatakan panggilan patut dan tertulis,” tuturnya Selasa, (23/8).

Lebih lanjut Hafidz menyatakan, frasa ‘dan’ dalam rumusan ayat secara patut dan tertulis dengan bentuk tabulasi seperti ketentuan Pasal 168 ayat (1) UU 13/2003, merupakan rincian yang bersifat kumulatif. “Makna telah dipanggil secara patut dan tertulis yang terkandung dalam pasal itu, haruslah terpenuhi kedua-duanya,” jelas ia. Dengan demikian menurut Hafidz, seorang pekerja yang mangkir selama lebih dari lima hari berturut-turut, hanya dapat dikualifikasikan mengundurkan diri, setelah pengusaha memanggil sebanyak dua kali secara patut melalui tulisan dengan rentang waktu tiga hari kerja diantara panggilan pertama dan kedua, yang ditujukan ke alamat pekerja sebagaimana tercatat di perusahaan, terangnya. (YUL)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of