Type to search

Berita

MA Putuskan Pesangon Atas Alasan PHK Karena Kerja Sampingan

Share
Ilustrasi. (foto: www.mahkamahkonstitusi.go.id)

Ilustrasi. (foto: www.mahkamahkonstitusi.go.id)

Jakarta | Welhelmus Latuputty diputuskan hubungan kerja secara sepihak, atas alasan sering datang terlambat, dan melakukan kegiatan diluar perusahaan pada waktu jam kerja. Sebagai supervisor di bengkel Hino, Welhelmus yang mempunyai keahlian perbengkelan, mengakui adanya usaha sampingan yang ia lakukan setelah jam kerja selesai. Tetapi, ia menolak alasan PHK tersebut, karena menurutnya, dirinya tidak bekerja pada usaha sampingannya saat jam kerja, dan tidak pula menggunakan fasilitas perusahaan.

Terhadap alasan Welhelmus, PT. Nengmeypratama Malut Maluku yang berlokasi di Jl. Wolter Monginsidi, Ambon itu, tidak dapat mengubah keputusan PHK yang telah dijatuhkan terhitung sejak 30 April 2014. Sehingga, Welhelmus memutuskan untuk mengajukan gugatan perselisihan pemutusan hubungan kerja ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Ambon. Dalam tuntutannya, ia meminta agar PHI menghukum perusahaan untuk membayar uang pesangon dan uang penghargaan masa kerja.

Setelah melakukan rangkaian persidangan, PHI Ambon mengeluarkan putusan bernomor 03/PHI.G/2015/PN.Amb, tanggal 24 Juni 2015, yang pada amarnya memutuskan untuk menolak gugatan Welhelmus untuk seluruhnya. Karena, PHI menganggap alasan PHK yang didalilkan perusahaan telah terbukti, dengan didasarkan pada keterangan 2 (dua) orang saksi, dan foto adanya kegiatan usaha service bengkel mobil yang sedang dilakukan Welhelmus.

Tak terima dengan Putusan PHI Ambon, Wel mengajukan keberatan ke Mahkamah Agung (MA). Ia menolak keterangan dua saksi yang senyatanya dalam persidangan tidak pernah disumpah, serta foto yang dijadikan bukti tidaklah memberikan gambaran yang terang benderang, yang menyimpulkan adanya usaha service mobil di luar perusahaan yang ia lakukan pada saat jam kerja.

Atas dalil keberatan tersebut, MA menilai, alasan PHK yang tanpa disertai pemberian uang pesangon dengan alasan karena si pekerja melakukan usaha sampingan adalah tidak terbukti. “Bahwa Pemohon Kasasi dituduh melakukan kegiatan di luar perusahaan Termohon Kasasi pada waktu jam kerja, akan tetapi Termohon Kasasi tidak dapat membuktikannya, dimana ternyata Pemohon Kasasi melakukan pekerjaan sampingan di luar perusahaan dan diluar jam kerja seperti di rumah dan di tempat lain, tetapi bukan dalam lingkungan perusahaan,” ujar Hakim Agung Mahdi Soroinda Nasution, Selasa (15/3/2016) lalu.

Sehingga MA berpendapat, terdapat cukup alasan untuk membatalkan Putusan PHI Ambon. “Mengadili sendiri. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian. Menghukum Tergugat untuk membayar kepada Penggugat sejumlah Rp.34,2 juta,” tegas Mahdi membacakan amar putusan No. 621 K/Pdt.Sus-PHI/2015. (YUL)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *