Selasa, 12 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
891

Gerakan Buruh Ditengah Pusaran Demokrasi

Para Peserta Diskusi TURC di Hotel Bunga-Bunga, Jakarta, 29-31 Maret 2017.
Para Peserta Diskusi TURC di Hotel Bunga-Bunga, Jakarta, 29-31 Maret 2017.

Jakarta | Sebagai bagian dari gerakan sosial, setiap aksi demonstrasi yang digelar oleh para buruh, baik puluhan hingga ribuan orang, setidaknya bertujuan untuk mempengaruhi Pemerintah dalam membuat atau membatalkan sebuah kebijakan, yang akan bahkan telah berdampak terhadap kehidupan buruh dan keluarganya.

Beberapa bulan terakhir, berbagai pihak cukup tercengang dengan hadirnya jutaan orang dalam gerakan sosial pada 4 Nopember 2016 lalu di Jakarta, yang dikenal dengan sebutan “Aksi 411”. Jutaan masyarakat pemeluk agama Islam, berbondong-bondong menuju pusat kekuasaan pemerintahan, dengan menyuarakan tuntutan penegakkan hukum.

Meskipun tidak sama, gerakan buruh sejak awal tahun 2016, nyaris berhenti ditempat. Hanya beberapa serikat buruh, seperti Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) yang masih menyuarakan kepentingan-kepentingan kaum buruh. Isu upah minimum hanya mampu membakar semangat perjuangan didaerah-daerah.

Kondisi demikian, mengundang keprihatinan beberapa elite serikat buruh. Dalam gelaran diskusi yang difasilitasi oleh Trade Union Rights Center (TURC), 29-31 Maret 2017 di Hotel Bunga-Bunga, Jakarta, para buruh mencari kemungkinan lahirnya kembali gerakan buruh yang progresif dan konsisten menyuarakan kepentingan kaum buruh.

Kebutuhan untuk melakukan pendalaman terhadap analogi sosial pada beberapa gerakan buruh sebelumnya dengan gerakan lainnya, memperbaiki manajemen internal serikat buruh, membangun gerakan ekonomi hingga merubah cara fikir buruh, menjadi kesimpulan akhir diskusi dan catatan pekerjaan rumah bagi setiap serikat buruh. (-02)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of