Sabtu, 20 Juli 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
834

Mayday 2017, Demonstrasi Rasa Objek Wisata

Aksi Mayday yang diselenggarakan oleh Konfederasi KASBI. (foto: solopos.com)
Aksi Mayday yang diselenggarakan oleh Konfederasi KASBI. (foto: solopos.com)

Jakarta | Entah dari mana datangnya, tiba-tiba Menteri Ketenagakerjaan, Hanif Dhakiri secara spontan menginginkan hari buruh Internasional 1 Mei mendatang, yang dari tahun ke tahun menjadi salah satu sarana para buruh di Indonesia menyuarakan gundah gulananya dan nasib masa depan keluarganya, menjadi objek wisata.

“Bagaimana caranya membuat perayaan mayday yang bisa menjadi daya tarik pariwisata. Hal itu perlu dilakukan agar citra pergerakan buruh menjadi positif dan menarik,” ujarnya saat memberikan sambutan pada acara peluncuran buku Quo Vadis: Selintas Perjalanan Panjang Serikat Pekerja/Serikat Buruh Indonesia di Hotel Puri Denpasar, Jakarta Selatan, Selasa (25/4/2017) siang tadi.

Hanif ingin Mayday tahun 2017 ini dilakukan melalui karnaval budaya, pertunjukan seni dan olah raga yang di dalamnya dapat diselipkan pesan-pesan yang ingin disampaikan buruh. Ia mendorong agar buruh memanfaatkan Mayday sebagai momentum untuk meningkatkan reputasi dari pergerakan buruh. “Bagaimana memanfaatkan mayday untuk meningkatkan pergerakan buruh ini menjadi popular dan lebih kuat,” tambahnya.

Di tahun lalu, para buruh menyuarakan penyesuaian upah minimum yang tidak lagi berdasarkan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 78 Tahun 2015. Selain itu, para juga melakukan penolakan terhadap rencana pemberlakuan Undang-Undang Pengampunan Pajak (Tax Amnesty). Mereka menengarai UU tersebut justru menciderai para buruh yang selama ini taat membayar pajak. Dengan diberlakukannya UU TA, maka yang menikmati pemberlakuannya adalah para pengusaha yang selama ini mengemplang pajak. (-02)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of