Jumat, 20 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
865

Kilas Mayday di Jabotabek, dari Turun ke Jalan hingga Dangdutan

Ratusan buruh di Kabupaten Bogor merayakan peringatan hari buruh se-Dunia dengan pentas dangdut, Senin (1/5/2017).
Ratusan buruh di Kabupaten Bogor merayakan peringatan hari buruh se-Dunia dengan pentas dangdut, Senin (1/5/2017).

Jabotabek | Menurunnya jumlah massa buruh dari tahun ke tahun sejak 2014 dalam memperingati momentum hari buruh se-Dunia yang biasa digelar setiap 1 Mei, pasca ditetapkannya sebagai hai libur nasional oleh Pemerintah Indonesia, seolah mengisyaratkan perjuangan buruh telah selesai. Padahal, masih banyak hak normatif buruh yang diatur dalam undang-undang dirampas oleh pengusaha, akibat kurang maksimalnya pengawasan Pemerintah dalam menegakkan hukum ketenagakerjaan.

Hampir 50 ribu buruh, puluhan organisasi buruh lengkap dengan bendera dan panji-panji kebesarannya, Senin (1/5) kemarin membanjiri jalan-jalan menuju Istana Negara, di Jakarta. Meski mereka terhalang oleh barikade polisi, dan harus menahan haus lapar, terik matahari dan guyuran hujan, namun mereka tetap menyuarakan isu-isu kesejahteraan para buruh yang kerap dilupakan oleh Pemerintah untuk ditegakkan.

Ditempat terpisah, ratusan buruh di Kabupaten Bogor merayakan peringatan hari buruh se-Dunia dengan pentas dangdut. Bertempat di alun-alun Pemda, seolah para buruh ingin melupakan sejenak kebisingan mesin-mesin pabrik, atau bentakan suara mandor pabrik yang sering memanggil mereka dengan cara yang tidak beretika. Mereka bercampur baur dengan polisi dan tentara, serta para penyanyi dangdut.

Hampir sama dengan buruh Bogor, di Kabupaten Tangerang para buruh turutserta dalam lomba memancing, yang difasilitasi oleh Mapolres Tangerang. Bahkan Kapolres menyumbang 10 (sepuluh) ekor kambing sebagai hadiah perlombaan. Seolah tak ingin kalah seru dalam memperingati Mayday, buruh di Kota Tangerang-pun larut dalam pesta pora dengan ratusan doorprize yang hadiah utamanya adalah ibadah umroh.

Sedikit berbeda dengan buruh di Karawang. Malam menjelang 1 Mei, mereka yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa (FSPS), melakukan diskusi dengan para pegiat lingkungan. Keprihatinan para buruh terhadap rencana Pemerintah yang ingin menggunakan kawasan lindung di Karawang, memberikan mereka dorongan untuk memperjuangkan daerah tersebut dari potensi negatif penyalahgunaan kawasan lindung. (-02)

1
Leave a Reply

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Jono Recent comment authors
  Subscribe  
newest oldest most voted
Notify of
Jono
Guest
Jono

Hak-hak normatif buruh yang dilindungi oleh UU masih banyak yang dilanggar pengusaha. Hal ini disebabkan oleh kurangnya sistem pengawasan dari pemerintah dan kecondongan oknum pengawas di lapangan yang membela yang kuat/berduit yaitu pengusaha.