Type to search

Sekitar Kita Video

Prahara Petugas Tol Dibalik Selimut Tekhnologi

Share

Jakarta | Rencana Pemerintah yang akan memberlakukan sistem non-tunai di seluruh gardu tol terhitung Oktober 2017 mendatang, menuai kekhawatiran bagi dua puluhan ribu pekerja pelayan tol. Penerapan kartu elektronik (e-toll) sudah pasti akan menggantikan peran manusia dalam pelayanan jalan berbayar tersebut. Setiap pengguna jalan tol tidak akan lagi melakukan pembayaran dengan uang, tetapi cukup melekatkan e-toll pada mesin yang disediakan atau menggunakan sensor e-toll.

Penyesuaian terhadap kecanggihan tekhnologi memang sebuah keniscayaan, namun dampak terhadapnya harus diperhitungkan oleh Pemerintah. Negara diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja sebagai kewajiban konstitusionalnya kepada masyarakat. Demikian dikatakan oleh Mirah Sumirat, Presiden Asosiasi Pekerja (ASPEK) Indonesia, Jum’at (12/5) kemarin di Jakarta Selatan.

Menurut Mirah, pemberlakuan sistem pembayaran jalan tol dianggap akan menciptakan pengangguran baru, jika Pemerintah tidak menciptakan lapangan kerja bagi sekitar 20 ribuan petugas tol. Terhadap rencana Pemerintah yang akan menempatkan para petugas tol di unit-unit lain, dibantah oleh Mirah sebagai jalan keluar. Sebab, lanjut ia, penempatan di unit lain tidak akan menampung seluruh petugas tol yang tergusur oleh sistem non-tunai.

Penerapan sistem non-tunai di Indonesia, dinilai Mirah belum tepat diterapkan. Negara-negara maju di Asia yang menggunakan tekhnologi dalam transaksi pembayaran tol, Pemerintahnya sudah tidak lagi bergantung pada industri sektor-sektor padat karya, tetapi padat modal yang berimbas pada pemenuhan tingkat kesejahteraannya.

“Buat dulu regulasi, payung hukum untuk melindungi warganegara, ciptakan lapangan pekerjaan, kalau mau beralih ke tekhnologi, kurikulum pendidikan diganti dulu, untuk menuju Indonesia bertekhnologi,” papar Mirah. (-02)

Hits: 8

1 Comment

  1. Jono 15 Mei 2017

    Pembangunan tanpa perencanaan yang matang, tidak menambah kesejahteraan, malah menciptakan pengangguran.

    Balas

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *