Jumat, 5 Juni 2020 | Saatnya Buruh Cerdas
3.685

Pemerintah Diminta Perangi Perusahaan Penipuan Lowongan Kerja

Jakarta | Sulitnya lapangan pekerjaan, selalu memaksa setiap calon tenaga kerja untuk mencari informasi lowongan pekerjaan, meskipun kesempatan untuk dapat diterima kecil. Bermodal seragam hitam putih dan map berisi riwayat hidup beserta ijazah selalu mereka bawa. Bagi yang bernasib baik, sekali dua kali melamar, mereka diterima bekerja walau melalui tes tetapi proses tersebut mereka nikmati dengan senyuman ketika dinyatakan diterima bekerja.

Berbeda dengan nasib Ujang dan Siti (nama disamarkan), keduanya harus mengalami penipuan lowongan kerja yang dilakukan oleh oknum PT. Inti Tama Karsa serta PT. Biana Cemerlang Anugerah. Kedua perusahaan tersebut mengaku bukanlah yayasan penyedia jasa tenaga kerja (outsourcing), sehingga Ujang dan Siti tergoda untuk menghubungi perusahaan yang berlokasi di Pertokoan Roxy Mas, Jakarta Barat dan Jakarta Timur.

Kedua pekerja tanpa menaruh curiga sedikitpun, mendatangi alamat yang diberikan melalui pesan singkat. Saat datang, keduanya diinterview layaknya pencari kerja pada umumnya. Namun, setelah keduanya hendak pamit pulang untuk mempersiapkan diri bekerja esok hari, mereka diminta untuk membayar uang jaminan pengganti ijazah asli sebesar Rp.500 ribu. Setelah dipertimbangkan dengan besaran gaji yang ditawarkan, akhirnya Siti menyerahkan uang yang dipersyaratkan.

Keesokannya, Siti datang dengan menggunakan sepatu dan baju seperti yang dipesan oleh orang yang menginterview dirinya. Saat itu, Siti diminta untuk menyerahkan uang sebesar Rp.20 ribu untuk pembelian meterai yang akan dibubuhkan pada surat perjanjian kerja. Selesai menanda-tangani perjanjian, Siti diminta datang kembali besok dengan bukti memo dan kuitansi penerimaan uang.

Namun pada hari yang telah ditentukan, Siti mendapati tempat ia melamar terkunci dan nomor handphone yang ia gunakan untuk menghubungi sebelumnya, tidak aktif. Ternyata Siti baru betul-betul menyadari, jika dirinya telah menjadi korban penipuan lowongan kerja yang tidak ada kejelasannya. Hal yang sama juga dialami Ujang, ia mendapatkan brosur lowongan pekerjaan dari facebook.

Ujang dan Siti, seharusnya menjadi cermin bagi Pemerintah melalui aparatnya yang berwenang untuk memerangi perusahaan yang melakukan penipuan lowongan pekerjaan. Setidaknya jika Pemerintah belum mampu menyediakan lapangan kerja bagi seluruh warganegaranya, paling tidak menjaga warganya dari upaya jahat orang lain. Sebab, dapat dipastikan bukan hanya Ujang dan Siti yang menjadi korban, tetapi bisa puluhan, ratusan hingga ribuan orang dengan biaya Rp.500 ribuan perorangnya. (-02)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of