Rabu, 17 Juli 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
1.758

Tanpa Jeda 30 Hari, Status Kontrak Menjadi Pekerja Tetap

Ilustrasi. (gambar: blog.talenta.co)

Jakarta | Mahkamah Agung (MA) sependapat dengan pertimbangan hukum yang telah diputuskan oleh Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 18 Juli 2016 lalu. Dalam putusannya, PHI Jakarta Pusat menyatakan hubungan kerja antara Rita dengan PT. Delami Garment Industries, putus dengan kewajiban pembayaran uang pesangon sebesar Rp.25 juta lebih.

Padahal, Rita sejak diterima bekerja terhitung 8 Agustus 2011 sebagai staf accounting pada perusahaan yang berlokasi di Jalan Alaydrus, Jakarta Pusat tersebut, dipekerjakan sebagai pekerja kontrak (hubungan kerja waktu tertentu). Namun kemudian, pada bulan September 2015, Rita diakhiri hubungan kerjanya dengan alasan telah melakukan pelanggaran terhadap peraturan perusahaan.

Terhadap pengakhiran hubungan kerja yang dialami Rita, MA dalam pertimbangan hukumnya, menilai Putusan PHI Jakarta Pusat No. 88/Pdt.Sus-PHI/2016/PN.Jkt.Pst, tidak bertentangan dengan hukum atau peraturan perundang-undangan yang berlaku. Alasannya, karena perjanjian kontrak yang dibuat antara Rita dengan perusahaan telah bertentangan dengan Pasal 59 ayat (5) Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003.

Perusahaan dianggap telah salah dalam menerapkan perpanjangan perjanjian kontrak. Sebab, perpanjangan hanya dapat dilakukan satu kali. Sehingga, apabila perusahaan hendak melakukan kembali perikatan hubungan kerja dengan Rita, maka dapat dilakukan setelah melalui masa jeda selama 30 (tiga puluh) hari sejak kontrak kedua berakhir.

Dengan demikian, MA dalam putusannya No. 905 K/Pdt.Sus-PHI/2016, hubungan kerja antara Rita dengan perusahaan berubah menjadi pekerja terhitung sejak terjadinya pelanggaran perpanjangan kontrak, yaitu Mei 2012. (-02)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of