Kamis, 14 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
359

Diberhentikan Saat Meminta Kejelasan Status, Pengurus Serikat Dimenangkan MA

Ilustrasi.

Jakarta | Dengan alasan perjanjian kerja waktu tertentunya telah berakhir, Hotel Grand Quality Yogyakarta memberhentikan Ahmad Mustaqim serta Pitri Isdianto selaku Ketua dan Sekretaris Serikat Pekerja, terhitung sejak 7 Mei 2014. Keduanya tidak hanya dilarang masuk ke lingkungan Hotel, tetapi juga tidak bisa melakukan absensi karena telah diblokir oleh pihak perusahaan.

Sebulan sebelumnya, Mustaqim dan Isdianto meminta kepada perusahaan pengelola hotel, PT. Griya Asri Hidup Abadi untuk segera menetapkan status hubungan kerja 23 pekerja, yang semula berstatus pekerja waktu tertentu (kontrak) diangkat menjadi pekerja tetap. Atas permohonan tersebut, sejak 11 April hingga 5 Mei 2014, dilakukan rangkaian pertemuan guna membahas permintaan pekerja. Akan tetapi upaya perundingan tidak menghasilkan kesepakatan apapun, hingga perusahaan memberhentikan keduanya yang telah bekerja selama 10 tahun.

Atas pemberhentian tersebut, keduanya mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Yogyakarta, setelah upaya mediasi melalui Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Sleman gagal mencapai kesepakatan. Dalam surat gugatan yang diregister dengan perkara No. 11/Pdt.Sus-PHI/2016/PN.Yyk, Mustaqim dan Isdianto menuntut perubahan status hubungan kerja keduanya sebagai pekerja tetap.

Meskipun perusahaan mengajukan keberatan atas alasan gugatan kedua pekerjanya itu, diantaranya ada putusan pengadilan yang menyatakan tidak dapat diterimanya gugatan keduanya. Namun, PHI Yogyakarta menilai keberatan tersebut tidak beralasan, karena keduanya tetap mempunyai hak untuk mengajukan gugatan kembali, sehingga keberatan PT. Griya ditolak. Selain itu, dalam amar putusan yang dibacakan pada 19 Desember 2016 lalu itu, PHI mengabulkan gugatan Mustaqim dan Isdianto.

Oleh PHI, keduanya dinyatakan sebagai pekerja tetap sejak adanya hubungan kerja pada tahun 2004. Perusahaan juga dihukum untuk mempekerjakan kembali Mustaqim dan Isdianto pada posisi semula yaitu bagian satuan pengamanan, dan menghukum perusahaan untuk membayar uang paksa apabila perusahaan tidak menjalankan putusan pengadilan sebesar Rp.1 juta perhari.

Terhadap putusan PHI, Mahkamah Agung (MA) dalam putusannya No. 262 K/Pdt.Sus-PHI/2017 berpendapat, pemberhentian kedua pengurus serikat pekerja tidak sah, akibat berkaitan dengan kegiatan keserikat-pekerjaan. Sehingga keduanya patut untuk dipekerjakan kembali, dengan disertai kewajiban untuk membayar upah dan tunjangan hari raya tahun 2014, 2015 serta 2016. “Permohonan kasasi yang diajukan oleh Pemohon Kasasi PT. Griya Asri Hidup Abadi (Hotel Grand Quality Yogyakarta) tersebut harus ditolak”, ujar Hakim Agung Maria Anna Samiyati, Rabu (5/4/2017). (-03)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of