Type to search

SEPUTAR BURUH

TURC: Pekerja Rumahan Akibat Lambannya Penciptaan Lapangan Kerja

Share

Andriko Otang, Direktur TURC membuka Festival Women Home Worker di Jakarta Creative Hub, Jum’at (22/12).

Jakarta | Mengusung isu #KerjaLayak, Trade Union Rights Centre (TURC) menggelar kegiatan Women Home Workers (Pekerja Rumahan Perempuan), di Jakarta Creative Hub, Jakarta Pusat. Pergeseran tenaga kerja yang awalnya melakukan pekerjaan di perusahaan-perusahaan formal, menjadi bekerja di rumah atau tempat tinggalnya masing-masing, yang kerap disebut sebagai pekerja rumahan.

Menurut Andriko Otang, Direktur Eksekutif TURC, bergesernya pekerjaan-pekerjaan yang biasa dilakukan di pabrik, adalah indikasi gagalnya penciptaan lapangan kerja, baik oleh Pemerintah maupun swasta. Tak hanya itu, melemahnya kondisi ekonomi global, juga turut mendorong perusahaan manufaktur sengaja mengalihkan proses produksinya ke pekerja rumahan.

Dari sisi hukum, Otang menilai pekerja rumahan mengakibatkan putusnya rantai perlindungan hukum, karena tidak jelas norma hubungan kerja yang diatur dalam ketentuan perundang-undangan ketenagakerjaan. “Benefit yang biasa diterima pekerja rumahan hanya sekedar upah yang mendapatkan rata-rata setengah dari besaran upah minimum setempat”, tegas Otang.

Direktorat Statistik Ketenagakerjaan Badan Pusat Statistik (BPS) Indra Mukti Subakti, ikut membenarkan maraknya pekerja rumahan sebagai sektor pekerja informal yang lebih dominan dilakukan oleh kaum perempuan sebanyak 12 juta orang ketimbang laki-laki hanya 7 juta orang. Indra juga memaparkan, pekerja rumahan banyak dijumpai di pedesaan. Selain itu, ia menyebut pekerja rumahan terbagi dua, ada yang bekerja untuk dirinya sendiri dan ada juga yang bekerja untuk orang lain.

Disisi lain, pekerja rumahan yang kondisi tempat kerjanya berbeda-beda menjadi salahsatu faktor yang enggan disentuh oleh serikat-serikat buruh. Sehingga pelaku pekerja rumahan menjadi sulit dibela, karena tidak dalam satu ruangan yang dapat menumbuhkan solidaritas. Selain itu, pekerja rumahan yang mengerjakan produk-produk manufaktur perusahaan, banyak menggunakan hubungan kekerabatan dalam membagi pekerjaan, untuk dapat meminimalisir adanya konflik. “Perlu dipelajari strategi pengorganisasi serikat buruh yang selama ini aktif pada pekerjaan rumahan, bagaimana mereka dapat memberikan perlindungan bagi pekerja rumahan, seperti di India”, ujar salahsatu narasumber, Ratna Saptari, Dosen Leiden University. (-02)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *