Senin, 23 September 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
1.305

24 Tahun Bekerja di Pabrik Peninggalan Penjajah, Warkim Menang di Pengadilan

Warkim (tengah) didampingi oleh Pengurus Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa (FSPS), Senin (9/10/2017) lalu. (Foto: FB Molen FX Trader)

‘Tak pernah menyangka’, sederet kata itu yang diucapkan Warkim, Pekerja kontrak pabrik gula selama lebih dari 24 tahun.

Warkim (tengah) didampingi oleh Pengurus Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa (FSPS), Senin (9/10/2017) lalu. (Foto: FB Molen FX Trader)

Jakarta | Hampir pupus harapan Warkim, saat ia diputuskan hubungan kerja oleh PT. Pabrik Gula Rajawali II Unit Jatitujuh pertanggal 3 Februari 2017 lalu. Tak kurang dari 24 tahun, ia menjadi Pekerja pabrik peninggalan Penjajah yang dibangun sebelum Perang Dunia ke-2 itu. Warkim seolah tak percaya, ketika palu Hakim Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Bandung, mengabulkan sebagian gugatannya.

Pabrik Gula dinyatakan bersalah telah menerapkan perjanjian kerja waktu tertentu (kontrak) terhadap Warkim, sehingga status hubungan kerja yang semula sebagai Pekerja Kontrak, ditetapkan menjadi Pekerja Tetap terhitung sejak tanggal 1 Nopember 1993. Dan pemutusan hubungan kerja yang dilakukan Perusahaan, haruslah disertai dengan pembayaran uang pesangon dua kali ketentuan undang-undang, yang seluruhnya berjumlah Rp58 juta.

Tak terima dengan Putusan PHI Nomor 118/Pdt.Sus-PHI/2017/PN.Bdg tanggal 9 Oktober 2017 tersebut, PT. Pabrik Gula Rajawali II Unit Jatitujuh mengajukan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). PHI Bandung dianggap telah salah dalam menerapkan hukum, dan putusannya haruslah dibatalkan dengan menyatakan perjanjian kontrak yang telah dibuat dengan Warkim, sah dan tidak bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan.

Namun permohonan kasasi yang diajukan 30 Oktober 2017 lalu itu oleh Pabrik Gula, tidak dapat dibenarkan. Menurut Hakim Agung Ibrahim selaku Ketua Majelis Hakim, pertimbangan hukum PHI tidak keliru dalam menjatuhkan putusan. Karena, pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh Pabrik Gula, dikualifikasikan sebagai efisiensi yang haruslah disertai dengan pembayaran uang pesangon.

“Mengadili, menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi PT. Pabrik Gula Rajawali II Unit Jatitujuh, tersebut,” ujar Ibrahim, Rabu (28/2/2018) yang didampingi oleh Hakim Dwi Tjahyo Soewarsono dan Fauzan. (Hak)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of