Type to search

Berita

Dipecat, Pekerja Harian Lepas Perkebunan Sawit Menang di Pengadilan

Share

Penyimpangan terhadap penerapan hubungan kerja, seolah tiada berkesudahan. Status harian lepas, kerap diberlakukan kepada pekerja perkebunan kelapa sawit.

Setelah belasan tahun bekerja, PT. Sukses Tani Nusasubur menolak jika Yeyet, dkk (21 orang) disebut sebagai pekerjanya. Sebab, selama ini mereka dianggap sebagai pekerja yang bekerja secara musiman dan merupakan pekerja harian lepas. Sehingga pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh perusahaan sawit, bukanlah sebagai pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang ada.

Anggapan tersebut, dibantah oleh Pengadilan Hubungan Industrial (PHI) pada Pengadilan Negeri Samarinda. Achmad Rasyid Purba selaku Ketua Majelis Hakim, menilai tindakan pengakhiran hubungan kerja yang dilakukan oleh PT. Sukses Tani Nusasubur telah bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003.

Menurut Rasyid, hubungan kerja antara perusahaan dengan Yeyet, dkk tidak dapat dikualifikasikan sebagai pekerja harian lepas. Karena para pekerja dipekerjakan lebih dari 21 hari dalam satu bulan dan telah bekerja lebih dari tiga tahun.

“Terbukti para Penggugat dipekerjakan oleh Tergugat secara terus menerus melebihi dua puluh satu hari kerja selama tiga bulan berturut-turut (bukti slip gaji para Penggugat), dengan demikian maka hubungan kerja menjadi pekerja dengan Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu”, sebagaimana dikutip dari salinan Putusan dalam Perkara Nomor 1/Pdt.Sus-PHI/2018/PN.Smr bertanggal 16 Mei 2018.

Oleh karena pengakhiran hubungan kerja bukan didasarkan pada suatu kesalahan yang dilakukan Yeyet, dkk, maka PHI Samarinda mengkualifikasikan tindakan yang dilakukan PT. Sukses Tani Nusasubur adalah pemutusan hubungan kerja dengan alasan efisiensi.

“Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, terbukti para penggugat teleh di putuskan hubungan kerja tanpa mempunyai kesalahan. Sehingga Majelis Hakim berpendapat, bahwa pemutusan hubungan kerja tersebut adalah dikategorikan karena efesiensi, dengan demikian hak-hak para Penggugat adalah sesuai dengan Pasal 164 ayat (3) UU Ketenagakerjaan,” ujar Rasyid.

Atas pertimbangan hukum tersebut, PT. Sukses Tani Nusasubur  dihukum untuk membayar uang kompensasi pesangon kedua puluh satu mantan pekerjanya itu, dengan jumlah secara keseluruhan sebesar Rp864,8 juta, dan juga mewajibkan perusahaan untuk membayar biaya perkara. (Hak)

Hits: 312

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *