Kamis, 18 Juli 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
2

Pengamat: Belasan Jenis Pekerjaan Hilang Akibat Revolusi Industri 4.0

Otomatisasi industri bukanlah hal yang baru, namun keadaan tersebut menuntut seluruh stakeholder mempersiapkan strategi untuk menghadapinya, termasuk dampak bagi pekerja.

Tidak semua jenis industri manufaktur dapat sesegera mungkin melakukan penyesuaian terhadap perubahan otomatisasi industrri 4.0, karena membutuhkan biaya modal yang tidak sedikit. Semisal industri tekstil dan garmen, meskipun keduanya kerap disebut-sebut sedang mengalami kemunduran usaha yang masif pada akhir-akhir ini. Namun Peneliti Institute for Depelovment of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara, membantah jika hal tersebut disebabkan karena dunia sedang menuju Revolusi Industri 4.0.

Menurut Bhima, kedua industri tersebut dapat terbilang mustahil mengalihkan pekerjaan dari tenaga manusia ke digitalisasi. “Modal tekhnologinya jauh lebih mahal, ketimbang harus membayar upah minimum,” tegasnya, Sabtu (26/1) siang tadi. Lebih lanjut Bhima menegaskan, buruknya keadaan kedua industri itu, juga salah satunya disebabkan ketidakmampuan Pemerintah dalam menahan laju masuknya tekstil dan pakaian dari China.

Yang terjadi sekarang ini, justru dapat dilihat dari banyaknya pemutusan hubungan kerja pekerja di perusahaan jasa. Ia menyebut ada dua belas jenis pekerjaan yang terancam hilang karena Revolusi Industri 4.0, yakni diantaranya telemarketer, salesman, dan broker real estate. “Industri jasa sudah tidak memerlukan lagi banyaknya jumlah tenaga kerja, semuanya sudah digantikan oleh digital. Dan terjadi di perusahaan retail, karena bisnisnya telah berganti dari mall ke online,” ujar Bhima saat menjadi narasumber dalam diskusi bertema “Revolusi Industri 4.0 dan Ancaman Tsunami PHK” yang diadakan oleh kelompok buruh di Matraman.

Bhima menyebut, efek samping yang diderita oleh karyawan akibat meningkatnya perkembangan tekhnologi di abad ini, hari dan jam kerja si pekerja seolah tanpa batas. Sehingga, peningkatan emosional, stress dan konflik keluarga meningkat 15-18%. “Dulu, jam kerja hanya 7-8 jam sehari, sedangkan Sabtu Minggu libur. Kini, diluar jam dan hari kerja-pun, bos masih tanya-tanya soal pekerjaan di whatss app,” pungkasnya.

Penguatan sistem jaminan sosial, menurut Bhima, merupakan salah satu kunci dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0. Beberapa negara sedang mencoba konsep Universal Basic Income (UBI), yaitu memberikan jaminan pendapatan dasar tanpa syarat ke seluruh warganegara. Konsep tersebut, pernah dilontarkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani (11/10/2017) lalu. Penerapan pola jaminan sosial tersebut, merupakan antisipasi dari akibat perkembangan teknologi yang memungkinkan penggunaan robot pengganti manusia sebagai tenaga kerja di berbagai bidang.

Akan tetapi, apakah penyelenggara jaminan sosial di Indonesia mempunyai kesiapan dan kemampuan untuk menerapkan konsep UBI, ditengah merosotnya ekonomi global serta daya beli masyarakat yang disebabkan perang dagang Amerika Serikat dan China? (Haf)

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of