Jumat, 15 November 2019 | Saatnya Buruh Cerdas
96

Dampak Revolusi Industri, Tujuh Perbankan Pangkas Jumlah Buruh

Ilustrasi. (foto: rctom.hbs.org)

Tak hanya sekedar memberi manfaat, namun era digitalisasi secara perlahan menuntun pada penurunan jumlah pekerja pada sektor-sektor tertentu.

Dalam tiga tahun terakhir, tercatat ada tujuh perusahaan perbankan yang mulai mengurangi jumlah pekerjanya, yakni Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Central Asia (BCA), Standard Chartered Bank Indonesia, CIMB Niaga, BTPN, Danamon dan OCBC NISP. Hanya ada dua bank milik Pemerintah yaitu Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang konsisten menambah jumlah karyawannya.

Jumlah keseluruhan pekerja pada sembilan bank itu berkurang sebanyak 18.835 orang, yang semula jumlah seluruhnya di tahun 2016 sebanyak 242.882 orang. Lalu turun 12.485 orang pada tahun 2017 menjadi 230.397 orang, dan berkurang sebanyak 6.350 orang menjadi 224.047 orang di tahun 2018.

Trend penurunan jumlah karyawan perbankan akan menjadi isu utama dalam diskusi publik yang akan digelar oleh Aliansi Perjuangan Buruh Jawa Timur di kantor Kontras Surabaya, Sabtu, 30 Maret yang akan datang.

Alih fungsi tugas yang mencapai 60%, kini sudah diganti teknologi. Demikian dikatakan oleh Direktur Kepatuan Bank Negara Indonesia Endang Hidayatullah, Selasa (19/3) lalu. Ia menyebut, pekerjaan yang dialihkan fungsi tugasnya tersebut diantaranya teller yang menjadi sales.

Menurut CEO Citi Indonesia Batara Sianturi, pekerjaan dalam dunia perbankan yang paling cepat terdampak adalah front office. “Digital itu shifting. Jangan heran nanti kalau ada bank yang butuh benyak kemampuan informasi dan tekhnologi akibat ada perubahan model bisnis,” ujarnya.

Hal tersebut dibenarkan oleh Ketua Umum Serikat Pekerja Bank Danamon Abdoel Moedjib, yang mengatakan bahwa hampir semua bagian terkena dampak mulai dari front office hingga back office. Pekerjaan analis kredit, dahulu dikerjakan hingga 12 orang, sekarang hanya 2-3 orang saja.

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of